Media Asuransi, JAKARTA – Momentum Ramadan hingga Idulfitri biasanya diikuti dengan meningkatnya kebutuhan proteksi asuransi. Hal ini terjadi karena aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat meningkat selama periode tersebut.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APPARINDO) Yulius Bhayangkara mengatakan peningkatan aktivitas selama Ramadan dan Lebaran memicu munculnya berbagai risiko yang perlu diantisipasi.
“Momentum Ramadan dan Idulfitri memang meningkatkan kebutuhan proteksi di beberapa area risiko tertentu, terutama yang berkaitan dengan peningkatan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat,” ujar Yulius, kepada Media Asuransi, dikutip Senin, 16 Maret 2026.
|Baca juga: Aktivitas Logistik dan Perjalanan Naik Jelang Lebaran, Bisnis Pialang Asuransi Ikut Terdongkrak
Menurut dia, salah satu risiko yang meningkat adalah pada sektor logistik dan distribusi. Menjelang Lebaran, volume pengiriman barang biasanya meningkat cukup signifikan. Kondisi ini membuat kebutuhan perlindungan seperti marine cargo insurance dan inland transit insurance ikut naik untuk melindungi barang selama proses pengiriman.
Selain itu, sektor perdagangan juga menghadapi peningkatan risiko. Pelaku usaha biasanya menambah stok barang di gudang untuk memenuhi permintaan masyarakat selama Ramadan. Peningkatan persediaan barang ini membuat potensi risiko seperti kebakaran atau kerusakan barang di gudang ikut meningkat.
“Kebutuhan marine cargo dan inland transit insurance meningkat,” jelasnya.
|Baca juga: KB Bank (BBKP) Kucurkan PNM Rp500 Miliar untuk Perluas Akses Modal Jutaan Pelaku Usaha Mikro
|Baca juga: BI Catat Utang Luar Negeri Capai US$434,7 Miliar di Januari 2026
Di sisi lain, mobilitas masyarakat juga meningkat selama Ramadan hingga masa mudik Lebaran. Banyak orang melakukan perjalanan domestik untuk pulang kampung atau berlibur. Kondisi ini membuat kebutuhan perlindungan seperti travel insurance dan personal accident juga ikut meningkat.
“Di sinilah peran pialang menjadi penting, yaitu membantu klien melakukan risk assessment dan memastikan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi tersebut tetap terlindungi secara optimal,” tutur Yulius.
Selain itu, menurut Yulius, aktivitas usaha di sektor ritel dan manufaktur juga biasanya meningkat selama Ramadan hingga Idulfitri. Karena itu, perlindungan terhadap risiko operasional bisnis juga dinilai menjadi semakin penting selama periode tersebut.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
