1
1

Risiko Global Kian Mengkhawatirkan, Industri Asuransi Diminta Perkuat Manajemen Krisis!

Ilustrasi. | Foto: Freepik/jcomp

Media Asuransi, GLOBAL – Laporan ‘Crisis Management Annual Review 2026’ yang dirilis Willis, unit bisnis WTW, menyoroti perlunya perusahaan dan industri asuransi memperkuat kesiapsiagaan krisis di tengah meningkatnya volatilitas risiko global sepanjang 2025.

Dalam laporan tersebut disebutkan persaingan geopolitik yang semakin intens, kesenjangan ekonomi, serta kembali memanasnya konflik antarnegara telah menciptakan lingkungan risiko yang semakin tidak stabil. Meski sejumlah konflik mereda, namun ketegangan di wilayah lain justru muncul secara cepat dan tak terduga.

Mengutip Asia Insurance Review, Rabu, 18 Februari 2026, di kawasan Asia Pasifik (APAC), laporan tersebut mencatat meningkatnya aksi unjuk rasa sipil yang dipicu tekanan ekonomi, gerakan anak muda, dan isu tata kelola pemerintahan.

Ketegangan antara India dan Pakistan, Thailand dan Kamboja, serta Pakistan dan Afghanistan dilaporkan mengganggu sektor penerbangan, perdagangan, dan keamanan regional. Konflik internal juga masih berlangsung di Myanmar, sementara ancaman terorisme tetap menjadi risiko yang berkelanjutan di Pakistan dan Afghanistan.

|Baca juga: Industri Asuransi Dorong Program Penjaminan Polis Fokus Lindungi Pemegang Polis Ritel

|Baca juga: Bos Asei Usul Skema Risk Based Premium dalam Penjaminan Polis untuk Cegah Moral Hazard

Secara global, kategori risiko utama seperti penculikan dan pemerasan mengalami perkembangan signifikan. Insiden tidak hanya meningkat di negara-negara yang selama ini dikenal berisiko tinggi, tetapi juga meluas ke negara yang sebelumnya tergolong berisiko rendah.

Laporan juga mencatat lonjakan insiden penyerangan aktif serta meningkatnya notifikasi ancaman dan kerusuhan sipil. Selain itu, terjadi pergeseran intensitas konflik ke wilayah selatan, dengan kekerasan bermotif politik naik di berbagai kawasan, mulai krisis yang berlanjut di Eropa hingga risiko pemerasan yang persisten di Amerika Latin.

Melihat tren tersebut, laporan merekomendasikan agar perusahaan memperkuat kerangka manajemen krisis dengan meningkatkan kualitas intelijen situasional, memperbaiki program manajemen risiko perjalanan, serta membangun strategi ketahanan yang responsif terhadap dinamika global.

Memasuki 2026, organisasi yang mampu mengantisipasi perubahan politik, ekonomi, dan keamanan serta mengintegrasikannya ke dalam perencanaan proaktif dinilai akan lebih siap menghadapi potensi disrupsi. Fragmentasi geopolitik dan aktivitas protes diperkirakan masih akan mendominasi agenda risiko global pada tahun mendatang.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Lockton: Premi Asuransi Siber Turun Meski Klaim Melonjak
Next Post Sambut Peluang, Kendalikan Risiko di Tahun Kuda Api Ala Astra Life

Member Login

or