1
1

Rumah Sakit Jiwa di China Diduga Jadikan Orang Sehat sebagai ‘Pasien’ Demi Uang Asuransi

Sejumlah rumah sakit jiwa di China diduga memikat orang sehat untuk berpura-pura menjadi pasien gangguan jiwa untuk terlibat dalam skema penipuan asuransi kesehatan. Foto: SCMP composite/Weibo/Douyin

Media Asuransi, GLOBAL – Sejumlah rumah sakit jiwa di wilayah China bagian tengah diduga melakukan penipuan terhadap skema asuransi kesehatan publik. Modusnya, pihak rumah sakit merekrut orang-orang yang sebenarnya sehat untuk didaftarkan sebagai pasien, lalu mengajukan klaim biaya pengobatan ke asuransi pemerintah.

Kasus ini terungkap lewat laporan investigasi media Beijing News. Dalam laporan tersebut disebutkan, mayoritas pasien di beberapa rumah sakit jiwa swasta di Xiangyang, Provinsi Hubei, tidak menunjukkan gangguan kejiwaan dan hanya menerima penanganan medis yang minim.

Mengutip SCMP, Kamis, 19 Februari 2026, beberapa orang yang diwawancarai mengaku tidak memiliki masalah kesehatan mental. Namun mereka tetap dirawat karena tergiur janji dari pihak rumah sakit berupa free hospitalisation dan free living costs.

|Baca juga: Tertahan di Bea Cukai, Bantuan Diaspora Aceh dari Malaysia Belum Bisa Masuk Lhokseumawe

|Baca juga: Purbaya Buka Suara soal Bantuan Diaspora Aceh yang Tertahan di Bea Cukai

|Baca juga: Bank Jakarta Gandeng Jakmania Wujudkan Inklusi Keuangan

Di China, sistem asuransi kesehatan publik menanggung sebagian besar biaya pengobatan, sementara pasien membayar sisanya. Skema inilah yang diduga dimanfaatkan oleh oknum rumah sakit untuk mendapatkan dana.

Setelah orang sehat tersebut resmi tercatat sebagai pasien, rumah sakit disebut menggunakan data pribadi mereka untuk membuat catatan medis palsu. Data itu kemudian dipakai guna mengajukan klaim biaya perawatan ke asuransi publik.

Dengan cara tersebut, rumah sakit tetap menerima pembayaran dari asuransi, meski pasien tidak benar-benar membutuhkan perawatan kejiwaan. Praktik ini membuat para pasien menjadi sumber pemasukan bagi institusi melalui klaim yang diduga tidak sesuai kondisi sebenarnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Bos BRI: Penetapan Premi Asuransi Parametrik Harus Lebih Granular
Next Post Tantangan Industri Asuransi Umum Indonesia di Tengah Persaingan Pasar

Member Login

or