Media Asuransi, JAKARTA – Pelemahan rupiah yang menembus level Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri asuransi. Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan inflasi kesehatan, kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial diperkirakan meningkat.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda mengatakan kenaikan harga barang impor dan biaya layanan kesehatan dapat mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan produk asuransi sebagai bentuk mitigasi risiko finansial.
|Baca juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Zurich Takaful Mulai Terima Klaim Perjalanan Umrah
“Nah, ketika ini meningkat semua, yang terjadi adalah kita akan melihat nih inflasi,” ujar Huda, dalam acara Media Gathering Zurich Asuransi Indonesia di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.
Menurut dia, kenaikan inflasi terutama di sektor kesehatan dapat membuat masyarakat semakin menyadari pentingnya perlindungan finansial. Ketika biaya layanan kesehatan meningkat, masyarakat akan mencari cara untuk mengantisipasi risiko pengeluaran yang tidak terduga.
Dalam situasi tersebut, produk asuransi kesehatan maupun asuransi jiwa berpotensi menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk melindungi kondisi keuangan mereka. Tingginya ketidakpastian ekonomi juga dapat mendorong sebagian masyarakat untuk memperkuat perlindungan finansial melalui kepemilikan polis asuransi.
|Baca juga: Zurich Prediksi Premi Travel Insurance dan Kendaraan Naik saat Lebaran 2026
|Baca juga: Zurich Pede Hadapi New RBC, Rasio Solvabilitas Sudah Capai 300%
Namun di sisi lain, tantangan terbesar bagi industri asuransi adalah melemahnya daya beli masyarakat. Tekanan inflasi yang meningkat dapat membuat sebagian masyarakat berpikir ulang untuk membeli atau menambah produk asuransi, terutama jika premi ikut meningkat akibat risiko yang lebih tinggi.
Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi tingkat penetrasi asuransi, terutama pada kelompok masyarakat yang selama ini belum terlayani secara optimal atau underserved.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Huda menilai, industri asuransi perlu menghadirkan produk yang lebih fleksibel dan terjangkau agar tetap dapat menjangkau masyarakat dengan kemampuan finansial terbatas.
|Baca juga: Induk Usaha Rombak Pengurus, Komposisi Dewan Komisaris Adira Finance (ADMF) Bakal Berubah?
|Baca juga: Travel Insurance dan Personal Accident Diramal ‘Diserbu’ Masyarakat Jelang Idulfitri 2026
Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah pengembangan produk micro insurance atau asuransi mikro yang menawarkan premi lebih rendah dengan manfaat yang disesuaikan dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Produk tersebut dinilai dapat menjadi jembatan antara kebutuhan perlindungan masyarakat dan kemampuan finansial mereka di tengah tekanan ekonomi yang meningkat.
“Nah, makanya butuh yang tadi micro insurance dan sebagainya. Ini yang saya rasa bisa menjembatani antara permintaan dan juga penawaran dari sisi industri asuransi,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
