Media Asuransi, JAKARTA – PT Asuransi Jiwa Sequis Life mengajak masyarakat melakukan reset finansial dan gaya hidup usai Lebaran. Hal itu diperlukan guna menata kembali prioritas hidup setelah periode konsumtif selama Ramadan dan libur Lebaran.
Ajakan ini disampaikan Chief of Human Resources & Corporate Services Sequis Life Agustina Samara dalam acara Halalbihalal ‘Better Tomorrow Starts Today Feel Good, Stay Healthy, Be Protected’ yang diadakan Sequis Life bersama media.
Sequis Life menghadirkan diskusi perencanaan keuangan dan kesehatan bersama Faculty Head Sequis Quality Empowerment (STAE) Sequis Life Yan Ardhianto Handoyo, dan Spesialis Gizi Klinik RSPI – Pondok Indah dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp. G.K. Diskusi juga dihadiri Brand Ambassador Sequis Life Donna Agnesia.
Agustina Samara yang akrab disapa Tina menyampaikan pesan momen usai Lebaran merupakan waktu yang tepat untuk merefleksi dan menata ulang prioritas hidup. Hal ini mengingat pada periode ini sering muncul tantangan kesehatan dan tekanan finansial.
|Baca juga: 10 Cara Investasi Emas untuk Pemula, Aman, dan Menguntungkan
|Baca juga: Ini 6 Langkah Efektif Lunasi Utang Kartu Kredit Anti Molor
“Feel good bukan sekadar suasana hati, tetapi rasa tenang karena kondisi keuangan terkendali dan kesehatan terjaga. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap keluarga sebagai #YangPalingBerarti dalam hidup,“ sebut Tina, Selasa, 31 Maret 2026.
Tina menambahkan gaya hidup sehat dan disiplin perencanaan keuangan merupakan langkah sederhana namun penting untuk mewujudkan hari esok yang lebih baik. Menurutnya, kesehatan dan finansial perlu berjalan beriringan—pola hidup sehat perlu dilengkapi proteksi, sementara proteksi tanpa disiplin finansial tidak akan optimal.
Ketahanan finansial tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan, tetapi juga disiplin mengelola arus kas, menyiapkan dana darurat, mengendalikan utang, serta memiliki perlindungan finansial.
Pada periode usai Lebaran, tekanan keuangan kerap meningkat akibat akumulasi pengeluaran —mulai dari kebutuhan mudik, konsumsi, hingga pemberian hadiah. Kondisi ini memerlukan strategi pemulihan terencana agar tidak berkembang menjadi risiko finansial jangka panjang.
“Usai Lebaran merupakan momen yang tepat untuk melakukan reset finansial. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain disiplin mengelola arus kas, mengendalikan utang, menyiapkan dana darurat, serta lengkapi dengan proteksi guna menjaga kondisi keuangan dari risiko tidak terduga,” ujar Yan
Yan juga mengajak masyarakat menata kembali pos keuangan yang terdampak usai Lebaran, khususnya yang berpotensi memicu utang konsumtif. Alokasi keuangan ideal, mencakup 50–60 persen untuk kebutuhan rutin, 10–20 persen untuk tabungan dan dana darurat, serta dilengkapi dengan proteksi.
“Asuransi jiwa dan kesehatan merupakan bagian penting dalam membangun ketahanan finansial keluarga. Asuransi bukan sekadar biaya, melainkan instrumen perlindungan untuk meminimalkan dampak finansial dari risiko yang tidak terduga,” tegasnya.
Di tengah proses pemulihan tersebut, masyarakat juga diimbau untuk tetap prudent (bijaksana), cermat mengambil keputusan keuangan, serta adaptif terhadap dinamika ekonomi global Dengan pengelolaan yang bijak dan terencana, kondisi keuangan usai Lebaran dapat pulih lebih cepat sekaligus memperkuat ketahanan finansial menghadapi masa depan.
Selain finansial, kondisi kesehatan juga perlu mendapat perhatian pada periode usai Lebaran. Perubahan pola makan, jam tidur, dan aktivitas selama Ramadan dan Lebaran —yang identik dengan jamuan bersama keluarga dan konsumsi makanan berlebih dapat berdampak pada kondisi tubuh.
Peningkatan konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak selama libur panjang berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Sebagian orang dapat mengalami kenaikan berat badan, sementara yang lain —meskipun berat badan stabil— tetap berisiko mengalami peningkatan kadar kolesterol, gula darah, serta tekanan darah.
|Baca juga: Jajaran Petinggi BCA Kompak Borong Saham BBCA untuk Investasi Jangka Panjang
|Baca juga: Segarkan Jajaran Manajemen, Victoria Insurance Resmi Tunjuk Sekretaris Perusahaan Baru
Dr. Juwalita menekankan pentingnya prinsip “Know Your Numbers” yang dapat dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan rutin, seperti tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan indeks massa tubuh.
“Seseorang dapat saja merasa sehat secara fisik. Namun, indikator kesehatannya belum tentu optimal. Bahkan, dapat mengalami gangguan metabolik. Deteksi dini melalui pemeriksaan berkala merupakan langkah preventif yang lebih cerdas dibandingkan pengobatan jangka panjang,” jelas dr. Juwalita.
Data Profil Kesehatan Indonesia 2025 dari Kemenkes RI menunjukkan bahwa Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas semakin meningkat pada kelompok usia muda, di rentang usia 16-30 tahun. Peningkatan ini dipicu pola konsumsi dan gaya hidup yang tidak sehat, termasuk rendahnya aktivitas fisik pada era digital.
Peningkatan tren penyakit pada usia muda adalah peringatan bahwa risiko kesehatan dapat muncul lebih dini. Usai Lebaran dapat dimanfaatkan untuk kembali membangun pola hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
Melengkapi diskusi, Brand Ambassador Sequis Life Donna Agnesia berbagi pandangan mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan dan perencanaan finansial di tengah kesibukan.
Menurutnya, hari esok yang lebih baik tidak datang begitu saja, melainkan harus dimulai sejak hari ini—dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Olahraga yang konsisten akan menjadi kebutuhan tubuh secara alami. Kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kesehatan,” ujar Donna.
Ia menambahkan proteksi merupakan bagian dari perencanaan hidup. Asuransi jiwa dan kesehatan adalah wujud cinta untuk keluarga yang paling berarti, mengingat risiko tidak terduga dapat terjadi kapan saja.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
