Media Asuransi, JAKARTA – Bayangan tentang masa pensiun sering kali terasa seperti mimpi yang masih sangat jauh. Kita membayangkan duduk santai di teras rumah, menikmati kopi sambil melihat cucu bermain, atau mungkin akhirnya punya waktu untuk keliling dunia.
Namun, di balik bayangan indah itu, ada satu pertanyaan krusial yang sering dihindari: dari mana uangnya berasal saat kita tidak lagi bekerja? Ketika kita pensiun, yang berhenti bukanlah hidup, namun sumber pendapatan nafkah secara aktif.
Masalahnya, kebutuhan dasar seperti makan, listrik, dan biaya kesehatan tetap mesti kita penuhi. Bahkan, biaya kesehatan cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Tanpa perencanaan yang matang, masa tua yang seharusnya tenang bisa berubah menjadi beban bagi keluarga.
|Baca juga: Bos OJK Sebut Klaim Asuransi Kesehatan Masih Terkendali di Awal 2026
|Baca juga: Pendapatan Premi Perusahaan Asuransi Indonesia Bakal Stagnan di 2026?
Melansir Nobu National Bank, Sabtu, 4 April 2026, berikut panduan bagaimana membuat rencana pensiun untuk menyiapkan dana di masa tua:
Mengapa perlu membuat rencana pensiun sedini mungkin?
Alasan utama untuk mulai menghitung hari ini adalah inflasi. Uang Rp10 juta hari ini tidak akan memiliki daya beli yang sama 20 atau 30 tahun ke depan. Jika kamu tidak menghitungnya dengan benar, kamu mungkin akan terkejut saat mengetahui tabungan yang kamu anggap ‘banyak’ ternyata hanya cukup untuk bertahan hidup selama beberapa tahun saja.
Menghitung dana pensiun membantu kamu menentukan target yang realistis. Kamu jadi tahu berapa banyak yang harus disisihkan dari gaji bulanan tanpa harus merasa terbebani secara berlebihan karena kamu melakukannya secara bertahap.
Langkah pertama, estimasi biaya hidup bulanan
Langkah pertama dalam perhitungan ini adalah memproyeksikan gaya hidup seperti apa yang kamu inginkan. Apakah kamu ingin tetap tinggal di kota besar? Atau kamu berencana pindah ke desa yang biaya hidupnya lebih murah?
Secara umum, ahli keuangan menyarankan target sekitar 70-80 persen dari pengeluaran bulananmu saat ini. Mengapa lebih rendah? Karena asumsinya, saat pensiun nanti, cicilan rumah sudah lunas, anak-anak sudah mandiri, dan kamu tidak lagi mengeluarkan biaya transportasi atau pakaian untuk bekerja.
Misalkan pengeluaranmu sekarang adalah Rp10 juta per bulan. Maka, kamu mungkin membutuhkan sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta per bulan di masa tua, dalam nilai uang saat ini. Ingat, ini adalah angka dasar sebelum kita memasukkan variabel inflasi.
Langkah kedua, menggunakan aturan empat persen (The 4% Rule)
Salah satu metode paling populer di dunia finansial untuk menghitung dana pensiun adalah The 4% Rule. Aturan ini menyatakan bahwa kamu bisa menarik empat persen dari total dana pensiunmu setiap tahun tanpa menghabiskan pokok tabungan tersebut, asalkan dana tersebut diinvestasikan dengan benar.
|Baca juga: Lianawaty Suwono Borong Saham BCA (BBCA), Tujuannya Demi Ini!
|Baca juga: Bos Allianz Syariah: Persaingan Industri Asuransi Syariah Makin Ketat, Inovasi Produk Jadi Kunci
Cara menghitungnya sederhana. Kamu cukup mengalikan pengeluaran tahunan yang kamu inginkan dengan 25. Contohnya, jika kamu butuh Rp100 juta per tahun untuk hidup nyaman maka perhitungannya adalah:
Rp100.000.000 × 25 = Rp2.500.000.000
Jadi, kamu perlu mengumpulkan Rp2,5 miliar agar bisa mengambil Rp100 juta setiap tahun secara aman. Angka ini terlihat besar, tetapi jangan panik dulu. Kamu punya waktu untuk membangunnya melalui kekuatan bunga majemuk atau compound interest.
Langkah ketiga, menghadapi realitas inflasi
Ini adalah bagian yang paling sering dilupakan. Jika kamu berencana pensiun 20 tahun lagi, angka Rp2,5 miliar tadi harus disesuaikan dengan asumsi inflasi tahunan. Jika inflasi rata-rata adalah lima persen maka nilai barang yang harganya Rp100 juta sekarang akan menjadi jauh lebih mahal dua dekade kemudian.
Kamu bisa menggunakan kalkulator finansial daring untuk mempermudah ini. Fokusnya adalah memastikan bahwa daya beli kamu tetap terjaga. Jangan terpaku pada nominal angka hari ini, tapi fokuslah pada nilai fungsinya di masa depan.
Di mana harus menyimpan dana pensiun?
Menabung di rekening biasa tidak akan cukup untuk mengejar inflasi. Kamu butuh instrumen investasi yang memberikan imbal hasil di atas laju inflasi. Untuk jangka panjang, saham atau reksa dana saham biasanya memberikan pertumbuhan yang paling signifikan, meski risikonya juga lebih tinggi.
Namun, seiring bertambahnya usia dan mendekati masa pensiun, kamu harus mulai menggeser aset ke instrumen yang lebih stabil seperti obligasi negara, deposito, atau reksa dana pasar uang.
Diversifikasi adalah kunci. Istilah yang sering digunakan oleh investor adalah ‘jangan menaruh semua telurmu dalam satu keranjang’, yang artinya adalah menjaga risiko kerugian dengan menyebarkan investasimu ke beberapa kantong. Miliki campuran aset yang bisa memberikan pertumbuhan sekaligus perlindungan modal.
Mulai dari hal kecil
Banyak orang menunda perencanaan pensiun karena merasa belum punya uang cukup untuk diinvestasikan. Ini adalah kekeliruan besar. Dalam dunia investasi, waktu adalah aset yang lebih berharga daripada jumlah uang. Semakin awal kamu mulai, semakin ringan beban investasi bulananmu karena uangmu punya lebih banyak waktu untuk bekerja sendiri.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
