1
1

Sun Life: 7 dari 10 Warga Asia Terpaksa Bekerja Usai Usia Pensiun

Ilustrasi. | Foto: kstudio/Freepik

Media Asuransi, GLOBAL – Survei pensiun regional terbaru dari Sun Life menyatakan kesenjangan pensiun yang semakin besar di Asia menciptakan risiko dan peluang bagi perusahaan asuransi. Hal tersebut dikarenakan semakin banyaknya orang yang bekerja melampaui usia pensiun karena tekanan keuangan.

Melansir Insurance Asia, Kamis, 5 Februari 2026, Survei Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide dari Sun Life menemukan sebesar 69 persen responden berharap untuk terus bekerja setelah usia pensiun.

Meskipun sebagian orang memilih melakukan hal tersebut demi tujuan atau kesejahteraan, namun hampir dua pertiganya, atau 62 persen mengatakan mereka membutuhkan penghasilan tambahan untuk memenuhi pengeluaran sehari-hari dan mengamankan keuangan jangka panjang mereka.

Oleh karenanya, hal tersebut menyoroti kesenjangan dalam tabungan dan perlindungan pensiun, di mana perusahaan asuransi memainkan peran sentral. Asia adalah rumah bagi sekitar 60 persen populasi dunia yang berusia di atas 60 tahun dan angka ini diperkirakan meningkat dua kali lipat menjadi 1,3 miliar dalam 25 tahun ke depan.

|Baca juga: Komisaris Erwin Ciputra Borong 2,3 Juta Saham Chandra Daya Investasi (CDIA)

|Baca juga: Bos OJK Yakin Kinerja Asuransi Kendaraan Tetap Ciamik di 2026

|Baca juga: Makin Tajir Melintir, Preskom BCA Jahja Setiaatmadja Borong 67.000 Saham BBCA!

Seiring dengan meningkatnya umur panjang, perusahaan asuransi menghadapi meningkatnya permintaan akan produk pendapatan pensiun, jaminan kesehatan, dan solusi perencanaan keuangan jangka panjang.

Survei tersebut menunjuk pada dua segmen pelanggan yang berbeda. Ada kelompok yang siap secara finansial dan mampu menunda masa pensiun karena pilihannya, sering kali karena alasan gaya hidup.

Kelompok lain menunda masa pensiun karena tidak mampu berhenti bekerja. Di antara mereka yang menunda masa pensiun karena kebutuhan, 52 persen mengatakan mereka membutuhkan lebih banyak waktu untuk menabung.

Perbedaan tersebut menunjukkan tidak meratanya akses terhadap asuransi dan perencanaan pensiun di seluruh wilayah. Survei ini juga meningkatkan kekhawatiran bagi perusahaan asuransi tentang bagaimana pelanggan merencanakan masa pensiunnya.

Penggunaan alat AI generatif untuk pengambilan keputusan keuangan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 22 persen, sementara ketergantungan pada bank dan penasihat keuangan independen masing-masing turun menjadi 35 dan 34 persen, dari 43 dan 41 persen pada 2024.

Pergeseran ini menunjukkan meningkatnya perencanaan mandiri, meningkatkan risiko kekurangan asuransi atau strategi pensiun yang tidak sesuai.

|Baca juga: Ashmore Asset Management Indonesia (AMOR) Siap Tebar Dividen, Cek Jadwalnya!

|Baca juga: Visa Komitmen Sediakan Pembayaran Digital yang Aman untuk Dukung Ekonomi Indonesia

Keyakinan terhadap kesiapan pensiun masih rendah. Hanya 22 persen responden mengatakan mereka merasa sangat yakin dengan rencana pensiun mereka, dan separuhnya tidak membuat rencana atau baru memulai perencanaan dalam dua tahun setelah pensiun.

Ketidakamanan finansial adalah pendorong utama pesimisme, seperti yang diungkapkan oleh 45 persen responden non-pensiun yang tidak ingin memasuki masa pensiun. Kesehatan fisik dan mental yang lebih baik adalah alasan utama orang menjadi lebih optimistis mengenai masa pensiun.

Sementara kesehatan yang buruk disebutkan oleh 32 persen dari mereka yang pensiun lebih awal dari yang direncanakan. Sun Life mengatakan hasil penelitian ini menyoroti peran industri asuransi dalam mengatasi kesenjangan pensiun melalui saran, perlindungan, dan solusi pendapatan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Peran Danantara Indonesia di Pasar Modal Berpotensi Berikan Manfaat Optimal
Next Post BPS Catat Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,11% di 2025

Member Login

or