Media Asuransi, GLOBAL – Survei prospek konsumen oleh FWD Group mengungkapkan mayoritas kelas menengah di Asia merasa cemas secara finansial dan kurang siap menghadapi masa pensiun. Hal itu diyakini seiring meningkatnya biaya hidup dan tanggung jawab keluarga, sehingga mengubah prioritas keuangan lintas generasi.
Lebih dari 9.000 konsumen kelas menengah berusia 21-65 tahun di 10 negara tempat FWD beroperasi yakni Kamboja, Hong Kong SAR, Indonesia, Jepang, Makau SAR, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Melansir Asia Insurance Review, Senin, 9 Februari 2026, survei mengungkapkan, 71 persen konsumen kelas menengah merasa cemas mengenai kesejahteraan finansial mereka secara keseluruhan.
Sebanyak tiga kekhawatiran terbesar adalah meningkatnya biaya hidup sehari-hari 71 persen; tingginya biaya layanan kesehatan sebesar 43 persen; dan kehilangan pekerjaan yang tidak terduga atau berkurangnya pendapatan mereka sebesar 37 persen.
Akibatnya tujuan keuangan utama mereka terfokus pada jangka waktu dua hingga tiga tahun. Hampir setengah yakni 44 persen responden mempunyai tujuan untuk membangun jaring pengaman dasar bagi keluarga mereka, sementara sepertiganya 37 persen berharap untuk mencapai kemandirian finansial.
|Baca juga: Bersaing di Tingkat Nasional, Visa Indonesia Dukung Penuh BPD untuk Transformasi Digital!
|Baca juga: Dukung Ekonomi Digital Indonesia, Visa Dorong Peran Perekonomian Daerah dan Generasi Muda
Group Chief Distribution and Proposition Officer FWD Group Lee Yen Ho mengatakan ada perasaan bersama mengenai kerentanan finansial di seluruh generasi kelas menengah di Asia.
“Seiring dengan bertambahnya usia masyarakat dan struktur keluarga yang berkembang, membangun ketahanan finansial untuk melindungi orang-orang tercinta dan mengubah tabungan menjadi pendapatan seumur hidup yang berkelanjutan akan menjadi semakin penting,” kata Lee.
“Mengubah cara pandang masyarakat terhadap asuransi mempunyai peran penting. Asuransi memberikan perlindungan di masa-masa sulit, namun juga dapat membantu membangun ketahanan, menjamin pendapatan untuk masa pensiun, dan memberikan kepercayaan diri yang dibutuhkan masyarakat untuk merayakan kehidupan,” ujarnya.
|Baca juga: Danamon (BDMN), Adira Finance (ADMF), dan MUFG Komitmen Dukung IIMS 2026
|Baca juga: BCA Insurance Guard Resmi Meluncur untuk Permudah Nasabah Mengelola Polis
Survei ini juga mengungkapkan beberapa temuan yakni beberapa tekanan generasi yang jelas, yaitu:
- Generasi X (lahir 1965-1980) menghadapi tantangan keseimbangan terberat dalam mendanai pendidikan, membayar hipotek, dan mempersiapkan masa pensiun. Di antara segmen ini, 62 persen khawatir tabungan mereka tidak akan mampu mengimbangi inflasi, dan 52 persen menganggap jaminan pendapatan seumur hidup sebagai kebutuhan pensiun utama mereka.
- Generasi Y (lahir 1981–1995) memiliki banyak tanggung jawab keuangan, dengan 49 persen khawatir tentang menabung untuk masa pensiun mereka sendiri. Mayoritas (85 persen) menghidupi orang tua mereka, selain mengasuh anak-anak mereka. Meskipun hampir separuh (47 persen) mencari solusi tunggal yang efisien untuk melindungi banyak anggota keluarga, sebagian besar (61 persen)belum pernah mendengar tentang rencana asuransi keluarga.
- Generasi Z (lahir 1996–2010) menghadapi tekanan finansial yang semakin besar, dengan 53 persen memperkirakan kesulitan dalam lima hingga 10 tahun ke depan karena meningkatnya pengeluaran sehari-hari, dan 46 persen mengatakan bahwa produk asuransi dirasa terlalu mahal.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
