Media Asuransi, JAKARTA – Sekitar lima perusahaan asuransi umum menghentikan penjualan produk asuransi kesehatan di tengah tekanan kinerja yang masih membayangi. Penghentian pemasaran dilakukan usai perusahaan mengalami ketidakseimbangan antara pendapatan premi dan beban klaim dalam beberapa waktu terakhir.
Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Budi Herawan mengatakan jumlah perusahaan yang menghentikan penjualan masih dalam proses inventarisasi. “Jumlahnya kita lagi inventarisasi, mungkin bisa ada lima (perusahaan)” ujar Budi, usai konferensi pers, di Jakarta, akhir pekan lalu.
|Baca juga: Prihati Pujowaskito Jadi Dirut BPJS Kesehatan 2026–2031, Ini Profilnya!
|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Catat Livin’ by Mandiri Tumbuh 49,3% di Januari 2026
Menurut dia, keputusan tersebut diambil karena premi yang diterima tidak lagi mampu menutup lonjakan klaim kesehatan. Ia menyatakan kondisi tersebut membuat perusahaan terus merugi lantaran biaya premi dan klaim tidak sebanding, meskipun harga premi telah dinaikkan.
Ia menjelaskan kenaikan premi yang dilakukan sejumlah perusahaan belum cukup untuk mengimbangi peningkatan klaim, terutama bagi perusahaan berskala kecil. Kondisi itu membuat rasio klaim memburuk dan berdampak pada kesehatan keuangan perusahaan.
|Baca juga: Investasi Asuransi di Saham Naik Jadi 20%, Bos AAUI: Industri akan Berhitung Cermat
|Baca juga: Penyaluran Kredit Bank Mandiri (BMRI) Tumbuh 15,62% Jadi Rp1.511,4 Triliun di Januari 2026
Selain faktor rasio klaim, tingkat persaingan industri turut memengaruhi keputusan penghentian penjualan. Perusahaan yang keluar dari bisnis asuransi kesehatan umumnya dinilai tidak mampu bersaing dengan perusahaan yang memiliki kapasitas modal dan portofolio lebih besar.
Secara industri, kinerja asuransi kesehatan hingga akhir Desember 2025 masih tertekan. Pendapatan premi tercatat turun 20,9 persen menjadi Rp9,35 triliun, dibandingkan dengan Rp11,82 triliun pada 2024.
Dari sisi klaim, industri asuransi umum membukukan klaim kesehatan sebesar Rp6,29 triliun pada 2025, turun 8,9 persen dibandingkan dengan Rp6,88 triliun pada tahun sebelumnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
