Media Asuransi, JAKARTA – Direktur Teknik PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) atau Tugu Insurance Fadlil Iswahyudi menilai penutupan Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak signifikan kepada industri asuransi umum. Bahkan, dampaknya signifikan terhadap lini marine dan kargo.
Fadlil menambahkan dampak langsung yang paling terasa adalah kenaikan biaya kargo, terutama yang berkaitan dengan komoditas energi seperti minyak. “Pasti terdampak, salah satunya kargo, terutama minyak, karena harganya akan naik,” ujarnya, di Jakarta, beberapa waktu yang lalu.
|Baca juga: OJK Catat 6 BPR Dicabut Izinnya hingga Kuartal I/2026. Ini Daftar Perusahaannya!
|Baca juga: OJK Awasi Khusus 14 Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun, Ini Alasannya!
Dalam praktik asuransi, ia menjelaskan, risiko perang umumnya tidak termasuk dalam perlindungan standar, kecuali melalui perluasan jaminan khusus, terutama di asuransi marine. Namun, perluasan tersebut memiliki konsekuensi berupa kenaikan premi yang signifikan.
“Dalam cakupan perang itu selalu di-exclude, kecuali untuk marine. Marine itu terlalu banyak pengecualian war, sehingga harganya akan naik,” jelasnya.
Menurut Fadlil, meningkatnya risiko geopolitik akan mendorong kenaikan premi untuk perlindungan risiko perang. Hal ini pada akhirnya juga berdampak pada industri reasuransi global yang ikut menanggung sebagian risiko tersebut.
|Baca juga: Pemerintah Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik, APBN 2026 Tetap Terjaga!
|Baca juga: PSAK 117 Bikin Industri Asuransi Keteteran, OJK Buka Opsi Mundurkan Tenggat Laporan Keuangan
Dirinya menambahkan tekanan biaya juga terjadi pada perusahaan reasuransi global, khususnya yang berbasis di Eropa seiring kenaikan harga energi seperti gas. Kondisi ini berpotensi memicu penyesuaian harga di seluruh rantai industri asuransi.
“Kalau biaya mereka naik, tentu akan minta penyesuaian. Akhirnya, underwriter akan menaikkan pricing dan memperketat terms and conditions,” ujarnya.
|Baca juga: Asrinda Re-Brokers Angkat Daya Wulandari Jadi Direktur Operasional
|Baca juga: Konflik Timur Tengah Berpotensi Tekan Kredit, OJK Ingatkan Risiko ke Daya Beli dan NPL
Lebih lanjut, dirinya melihat, tekanan inflasi global akibat kenaikan harga energi dan ketidakpastian geopolitik bakal berdampak pada sisi investasi industri asuransi. Hal ini mendorong perusahaan untuk lebih mengandalkan kinerja underwriting.
“Kalau saya melihatnya, inflasi naik ini akan memicu dari sisi investasi tidak begitu bagus, sehingga underwriting-nya yang harus dikuatkan,” tutup Fadil.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
