Media Asuransi, GLOBAL – Memasuki 2026, perusahaan asuransi menghadapi lingkungan yang tidak menentu dan bergejolak. Hal ini dibentuk oleh tekanan ekonomi dan geopolitik, persaingan yang semakin ketat, aliran modal baru, perubahan teknologi yang cepat, dan regulasi yang terfragmentasi.
Menurut Global Insurance Outlook 2026 dari EY, jalur pertumbuhan tradisional semakin menyempit, mendorong perusahaan asuransi untuk melakukan merger dan akuisisi untuk mendapatkan skala, kemampuan atau akses ke pasar baru.
Melansir Insurance Asia, Rabu, 4 Februari 2026, asuransi khusus dan desain produk yang lebih fleksibel, termasuk produk asuransi jiwa dan anuitas modular, tetap menjadi area pertumbuhan utama.
Pada saat yang sama, perusahaan asuransi melakukan divestasi buku-buku non-inti untuk membebaskan modal, dan tim manajemen mengambil pendekatan yang lebih disiplin terhadap persaingan. Namun, kecerdasan buatan tetap menjadi inti strategi.
Di sisi lain, EY mencatat, sebagian besar perusahaan asuransi belum melihat keuntungan selain peningkatan efisiensi. Sehingga, dewan sedang menilai kembali bagaimana kecerdasan buatan dapat mendorong nilai yang lebih luas, khususnya dalam penjaminan emisi, pengalaman pelanggan, dan pengambilan keputusan.
|Baca juga: Direktur BCA Lianawaty Suwono Borong 300 Ribu Lembar Saham BBCA
|Baca juga: Wabah Superflu Merebak, OJK Pelototi Rasio Klaim Asuransi Kesehatan
|Baca juga: Komisaris Erwin Ciputra Borong 2,3 Juta Saham Chandra Daya Investasi (CDIA)
Sementara kondisi pasar diperkirakan melemah di sebagian besar lini, dengan pertumbuhan premi yang lebih lambat dan tekanan biaya yang terus berlanjut.
Perusahaan asuransi merespons melalui otomatisasi yang lebih besar dan model sumber alternatif, meskipun EY memperingatkan pemotongan biaya yang tidak tepat sasaran dapat menghambat pertumbuhan di masa depan.
Sedangkan modal swasta memainkan peran yang lebih besar dalam membentuk kembali industri ini, terutama di bidang asuransi jiwa, anuitas, dan bagian dari pasar properti dan kecelakaan.
Di Amerika Serikat, jumlah perusahaan asuransi yang dimiliki oleh ekuitas swasta meningkat dari 90 pada 2018 menjadi 137 pada 2024, dengan aset yang diinvestasikan meningkat lebih dari dua kali lipat.
Lebih lanjut, EY mengatakan, perusahaan asuransi sekarang harus memutuskan cara terbaik untuk bermitra atau bersaing dengan para pemain ini. Kendala tenaga kerja, khususnya di bidang data, AI, dan penjaminan spesialis, masih menjadi tantangan utama.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
