1
1

Perusahaan Asuransi yang Melayani Keluarga Tajir Dihadang Regulasi Kian Ketat, Kenapa?

Ilustrasi. | Foto: Kindel Media via Pexels

Media Asuransi, GLOBAL – Perusahaan asuransi yang melayani keluarga ultra-kaya di Asia menghadapi tekanan operasional dan regulasi yang semakin meningkat. Hal itu karena transfer kekayaan lintas batas menarik pengawasan yang lebih ketat.

“Aturan anti pencucian uang yang lebih ketat dan persyaratan untuk mengungkapkan kepemilikan manfaat memperpanjang jangka waktu penerimaan nasabah baru dan mempersulit penerbitan polis premi tinggi,” kata para analis, dikutip dari Insurance Asia, Senin, 16 Maret 2026.

Direktur Pelaksana Lioner International Consultancy untuk Asia Tenggara Katherine Ho menyatakan keluarga-keluarga dengan aset dan bisnis di Singapura, Hong Kong, dan Malaysia memilih struktur yang memungkinkan mobilitas modal dan diversifikasi di berbagai kelas aset.

|Baca juga: Tata Kelola Promosi Dinilai Kunci Dorong Lebih Banyak Perempuan Jadi Pemimpin di Industri Asuransi

|Baca juga: LPS Ungkap 25 Perusahaan Asuransi Dicabut Izinnya dalam 14 Tahun Terakhir

Otoritas Moneter Singapura pada Juli 2025 mendenda sembilan lembaga keuangan sebesar US$21,6 juta (S$27,5 juta) atas pelanggaran yang terkait dengan skandal pencucian uang senilai US$2,4 miliar (S$3 miliar).

Pada kesempatan yang lain, Otoritas Asuransi Hong Kong baru-baru ini juga ikut menegur tiga broker serta memberikan denda sebesar US$55.000 (HK$429.000) karena gagal memverifikasi klien dengan benar dan memantau orang-orang yang terpapar politik.

Di sisi lain, bagi perusahaan asuransi yang menerbitkan polis bernilai besar, peraturan ini memerlukan dokumentasi ekstensif dan pemeriksaan kepatuhan tambahan, sehingga meningkatkan biaya administrasi dan memperlambat pelaksanaan polis.

Permintaan terhadap struktur asuransi khusus tetap kuat. Polis asuransi jiwa penempatan swasta, yang digunakan untuk mengelola kepemilikan luar negeri dan merencanakan transfer kekayaan antargenerasi, semakin populer.

Produk tradisional juga terus menarik klien. Kebijakan dan rencana tabungan Indexed Universal Life (IUL) semakin banyak digunakan untuk mendiversifikasi aset, mengakumulasi nilai tunai, dan memfasilitasi perencanaan warisan.

|Baca juga: Allianz Syariah Gelar Kegiatan Ramadan, Wujudkan Semangat Berbagi Kebaikan Penuh Keyakinan

|Baca juga: IHSG hingga Hasil Investasi Asuransi Jiwa Disebut Terpengaruh Akibat Pelemahan Rupiah

Chief Executive Officer EO Regional Grandtag Financial Consultancy (Singapura) Martin Wong mengatakan pasar IUL di Asia diyakini meningkat dua kali lipat seiring dengan bertambahnya pengalaman klien dan penasehat dengan produk tersebut.

Perencanaan suksesi masih menjadi titik lemah bagi banyak keluarga. Survei Schroders Wealth Management menemukan meskipun 70 persen keluarga mendiskusikan transfer kekayaan, namun hanya 23 hingga 30 persen yang telah meresmikan rencana tersebut.

“Melihat kembali solusi yang kami tawarkan, hal ini adalah tentang memastikan kesenjangan likuiditas atau kesulitan yang dihadapi dapat diatasi dengan rencana jumbo yang kami sediakan untuk memenuhi kebutuhan klien ini dari perspektif pajak warisan,” pungkas Wong.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Ganti Rugi Pertanggungan (Lanjutan 5)
Next Post BI Catat Utang Luar Negeri Capai US$434,7 Miliar di Januari 2026

Member Login

or