Media Asuransi, JAKARTA – Kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat memberikan tarif nol persen untuk 1.819 pos tarif produk Indonesia.
Kebijakan tersebut dinilai membuka peluang ekspor yang lebih luas ke pasar Amerika. Namun pengamat ekonomi mengingatkan bahwa manfaat dari tarif rendah tersebut sangat bergantung pada daya saing industri nasional.
Dalam diskusi kajian dampak ART yang diselenggarakan Prognosa Research & Consulting, Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad, menegaskan bahwa fasilitas tarif nol persen bukanlah keistimewaan yang hanya diberikan kepada Indonesia.
|Baca juga: Tarif AS Tekan Ekspor RI, Indef: Momentum Mempercepat Diversifikasi Pasar!
“Banyak negara juga mendapatkan fasilitas yang sama, seperti Malaysia dan Vietnam. Artinya, akses pasar memang terbuka, tetapi kita tetap harus bersaing dengan negara lain yang memiliki kapasitas industri kuat,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi, Senin, 9 Maret 2026.
Menurutnya, keberhasilan Indonesia memanfaatkan peluang tersebut akan sangat ditentukan oleh kesiapan sektor industri dalam meningkatkan produktivitas, kualitas produk, dan efisiensi biaya.
Direktur Prognosa Research & Consulting, Garda Maharsi, menjelaskan bahwa pemetaan awal terhadap struzktur industri nasional menunjukkan peluang yang berbeda di setiap sektor.
|Baca juga: Tarif AS Tekan Ekspor RI, Indef: Momentum Mempercepat Diversifikasi Pasar!
Beberapa sektor dinilai memiliki potensi besar untuk memanfaatkan momentum ART, di antaranya industri nikel, energi, dan petrokimia. Selain itu, lanjutnya, komoditas kelapa sawit (CPO) juga berpotensi memperluas pasar ekspor jika didukung oleh kebijakan yang tepat.
Ia menambahkan bahwa sektor-sektor unggulan perlu didukung dengan berbagai kebijakan strategis, termasuk kemudahan akses pembiayaan, dukungan logistik yang efisien, serta penguatan rantai pasok industri. Di sisi lain, sektor seperti tekstil, produk logam, dan mineral dinilai masih membutuhkan penguatan kapasitas agar dapat bersaing secara optimal di pasar global.
Editor: Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
