Media Asuransi, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan jumlah nasabah bank bulion mengalami lonjakan signifikan sejak pertama kali diluncurkan tahun lalu. Minat masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat seiring ketidakpastian ekonomi global.
Airlangga mengatakan ketika bank bulion diluncurkan pada Februari tahun lalu, jumlah nasabah tercatat sekitar 3,2 juta. Namun dalam waktu satu tahun, angka tersebut meningkat menjadi 5,7 juta nasabah.
“Yang tahun lalu diluncurkan Bapak Presiden seperti bank bulion di Februari tahun lalu jumlah nasabahnya 3,2 juta, sekarang sudah mencapai 5,7 juta. Jadi itu meningkat dengan pesat,” ujar Airlangga di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.
|Baca juga: Nasabah Bank Jago Syariah Tembus 2,4 Juta per Desember 2025, Tumbuh 16,5%!
|Baca juga: Allianz Syariah Hadirkan AlliSya CI Hasanah, Wujud Ikhtiar Jaga Jiwa dan Keuangan Keluarga
“Dan jumlah yang digadaikan di Pegadaian nilai emasnya meningkat menjadi 144,7 ton dari 94 ton. Dan juga mereka yang sudah memanfaatkan itu menjadi pinjaman itu juga naik sebesar 38,5 ton atau senilai Rp102 triliun,” ujar tambah Airlangga.
Ia menjelaskan peningkatan minat masyarakat juga terlihat dari volume emas yang digadaikan di Pegadaian. Nilai emas yang digadaikan meningkat menjadi 144,7 ton dari sebelumnya 94 ton.
Selain itu, masyarakat yang memanfaatkan emas sebagai jaminan pinjaman juga mengalami kenaikan. Volume pinjaman berbasis emas tercatat mencapai 38,5 ton atau setara dengan sekitar Rp102 triliun.
Airlangga menambahkan tren peningkatan pemanfaatan emas juga terjadi di perbankan syariah. Bank Syariah Indonesia (BSI) tercatat telah mengelola sekitar 22 ton emas melalui berbagai layanan berbasis emas.
Menurutnya, meningkatnya minat masyarakat terhadap emas tidak terlepas dari kondisi ketidakpastian global yang mendorong investor mencari instrumen yang lebih aman.
|Baca juga: Pengamat Sebut Asuransi Maritim, Pesawat, hingga Perjalanan akan Terhantam Keras Perang AS-Israel vs Iran
|Baca juga: AAUI: Konflik Timur Tengah akan Memengaruhi Underwriting hingga Penyesuaian Premi Asuransi
“Nah demikian pula di BSI itu juga meningkat, sekarang sudah mencapai 22 ton. Dan memang salah satu dari inflasi akibat daripada pembelian emas karena harga emas pada saat peluncuran bank bulion itu masih di angka US$3.000 dan sekarang sudah US$5.000,” kata Airlangga.
Ia menilai lonjakan harga emas tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan perang yang mendorong emas menjadi instrumen safe haven bagi investor. Dalam kondisi ketidakpastian global, emas dinilai menjadi salah satu pilihan utama masyarakat untuk menyimpan nilai kekayaan.
Airlangga menambahkan, di tengah dinamika tersebut pemerintah terus memperhatikan stabilitas ekonomi makro, termasuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
