Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyebut 2025 sebagai periode yang sangat menantang akibat tekanan global. Namun ekonomi Indonesia tetap mampu tumbuh di tengah ketidakpastian tersebut.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dinamika global berubah drastis sejak kebijakan tarif sepihak Amerika Serikat (AS) yang memicu perang dagang dan fragmentasi ekonomi dunia.
“Tahun 2025 memang betul-betul tahun yang bagi kami adalah sangat-sangat sulit, terutama sejak kita merayakan Idulfitri tahun lalu,” ujar Perry, dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
|Baca juga: Jajaran Direksi CIMB Niaga (BNGA) Kompak Borong Saham Perusahaan, Apa Tujuannya?
|Baca juga: Prudential Indonesia Perkuat Keagenan dan Bancassurance Dorong Pertumbuhan Premi di 2026
Ia menjelaskan kebijakan tarif timbal balik yang diumumkan Presiden AS saat itu menjadi titik balik yang mengubah peta ekonomi global.
“Kita ingat di waktu kita sedang mudik, gitu kan, kemudian Presiden Trump mengumumkan yaitu kebijakan tarif sepihak yang disebut tarif timbal balik (resiprokal). Nah, itu mengubah secara total bagaimana kondisi global,” kata Perry.
|Baca juga: Konflik Timur Tengah Hantam Rantai Pasok dan Biaya Operasional, Industri Asuransi Siaga Penuh!
Dampaknya pertumbuhan ekonomi dunia stagnan di kisaran 3,3 persen, disertai fragmentasi antarnegara serta meningkatnya volatilitas aliran modal di negara berkembang. Meski demikian, Indonesia dinilai masih mampu menjaga kinerja ekonomi dengan cukup baik.
“Inilah kita bersyukur bahwa kondisi ekonomi Indonesia itu relatif baik, pertumbuhan kita di 2025 itu 5,11 persen. Kita pengennya lebih tinggi tapi dalam kondisi global yang seperti ini kita cukup bersyukur 5,11 persen,” ujar Perry.
|Baca juga: Dana Pensiun Mulai Terapkan Life Cycle Fund, OJK Soroti Tantangan Berikut!
|Baca juga: SMBC Indonesia (BTPN) Umumkan Pengunduran Diri Ninik Herlani dari Kursi Komisaris
Pertumbuhan tersebut ditopang konsumsi domestik yang menyumbang sekitar dua pertiga terhadap total pertumbuhan, serta kinerja ekspor yang masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Selain itu, stabilitas makroekonomi juga relatif terjaga, mulai dari inflasi yang rendah, nilai tukar rupiah yang terkendali, hingga cadangan devisa yang tetap kuat. BI mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai lebih dari US$156 miliar pada akhir 2025, yang dinilai cukup untuk menjaga ketahanan eksternal di tengah gejolak global.
Dengan kondisi tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen, dengan tetap memperhatikan risiko global yang masih tinggi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
