Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) meluncurkan Aksi Kuatkan Literasi dan Inklusi Keuangan untuk Kesejahteraan (AKSI KLIK), sekaligus meluncurkan tiga buku panduan literasi keuangan digital serta gerakan Akses Keuangan melalui Business Matching dan Literasi untuk Kesejahteraan Keuangan (AKU BISA SEJAHTERA).
Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya BI memperkuat pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan sekaligus memperluas akses pembiayaan, khususnya bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat inklusi keuangan nasional mencapai 92,74 persen. Namun, angka itu masih perlu ditingkatkan untuk mencapai target 98 persen pada 2045.
|Baca juga: Nasabah Bank Jago Syariah Tembus 2,4 Juta per Desember 2025, Tumbuh 16,5%!
|Baca juga: Allianz Syariah Hadirkan AlliSya CI Hasanah, Wujud Ikhtiar Jaga Jiwa dan Keuangan Keluarga
Hal itu sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. “Literasi dan inklusi keuangan di Indonesia perlu terus ditingkatkan. Memang sudah ada kemajuan dari tahun ke tahun, tapi perlu terus ditingkatkan,” ujar Perry, di Jakarta, Jumat, 6 Maret 2026.
Ia menyoroti peningkatan inklusi keuangan idealnya harus diimbangi dengan peningkatan literasi keuangan. Bukan soal masyarakat yang sudah banyak memiliki rekening atau tahu cara menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), tetapi juga memahami bagaimana memanfaatkan layanan keuangan secara bijak.
Literasi keuangan, kata Perry, tetap menjadi penting agar masyarakat tidak hanya memperoleh akses terhadap produk keuangan, tetapi juga mampu melindungi diri dari berbagai risiko, termasuk kejahatan digital maupun praktik pinjaman daring ilegal.
Berdasarkan SNLIK 2025, tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia saat ini baru mencapai 66,46 persen. Karena itu, Perry menilai, sinergi antarpemangku kepentingan menjadi sangat penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan.
|Baca juga: Bos Allianz Syariah: Penyakit Kritis Dapat Ubah Kehidupan Keluarga dalam Sekejap
|Baca juga: Allianz Syariah Bayar Klaim Penyakit Kritis Rp600 Miliar di 2025, Dikontribusikan 3 Penyakit Ini!
Selain AKSI KLIK, BI juga meluncurkan tiga buku yang berfokus pada penguatan literasi keuangan digital, yakni Buku Strategi dan Program Edukasi dalam rangka Literasi Keuangan Digital Menuju Kesejahteraan Keuangan, Modul Edukasi Keuangan Digital untuk Pelatihan Tingkat Dasar, serta Pedoman Implementasi Model Bisnis UMKM Berkelanjutan: Aksi Mitigasi.
Perry menjelaskan penguatan literasi keuangan menjadi bagian dari upaya mendukung percepatan digitalisasi sistem pembayaran di Indonesia, salah satunya melalui penggunaan QRIS dan Bank Indonesia Fast Payment (BI-Fast).
“QRIS tahun ini sudah hampir masif digunakan, penggunanya hampir 60 juta, dengan 50 juta penggunanya adalah UMKM di tahun ini. Oleh karena itu akselerasi digitalisasi sistem pembayaran perlu terus diimbangi dengan penguatan literasi keuangan khususnya digital,” katanya.
Karena itu, menurut Perry, percepatan digitalisasi sistem pembayaran perlu diimbangi dengan penguatan literasi keuangan digital agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi keuangan secara aman dan produktif.
Selain itu, melalui AKSI KLIK, Bank Indonesia juga meresmikan gerakan Akses Keuangan melalui Business Matching dan Literasi untuk Kesejahteraan Keuangan (AKU BISA SEJAHTERA) yang bertujuan memperluas akses keuangan melalui kegiatan business matching serta edukasi keuangan bagi masyarakat dan pelaku usaha.
“Ini sangat-sangat penting untuk komitmen kita mempercepat agenda inklusi dan literasi keuangan. Harapannya supaya bisa menyampaikan financial well-being khususnya bagi UMKM dan ekonomi kerakyatan,” tutup Perry.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
