Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) mematok target optimistis untuk fungsi intermediasi perbankan pada tahun mendatang. Usai keberhasilan menjaga stabilitas di 2025, bank sentral kini memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2026 akan meningkat ke kisaran 8-12 persen.
Proyeksi ini didukung oleh kondisi likuiditas perbankan yang sangat longgar. Data akhir Desember 2025 menunjukkan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) berada pada level 28,57 persen, didukung oleh pertumbuhan DPK yang sangat tinggi mencapai 13,83 persen secara tahunan (yoy).
“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8-12 persen. Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga,” ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo, dalam konferensi pers Hasil RDG BI, Rabu, 21 Januari 2026.
|Baca juga: Update Kasus Investree, OJK: Proses Verifikasi Data Dilaksanakan Bertahap dan Cermat!
|Baca juga: Perkuat Kepemilikan, Komisaris Suhendra Prawira Widjaja Borong Saham Ultrajaya (ULTJ)
|Baca juga: Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di Januari 2026
Optimisme ini juga tercermin dari sisi penawaran, di mana perbankan mulai melonggarkan persyaratan pemberian kredit. Meski demikian, perbankan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian, khususnya pada segmen konsumsi dan UMKM yang masih memiliki risiko kredit cukup tinggi.
Selain faktor likuiditas, BI juga akan fokus pada penguatan sinergi kebijakan untuk memastikan suku bunga tetap kompetitif bagi dunia usaha. Hal ini diharapkan dapat mendorong penyerapan plafon kredit yang saat ini masih tersisa sekitar 22,12 persen dari total kapasitas yang tersedia.
“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan KSSK untuk terus memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong pertumbuhan kredit atau pembiayaan perbankan tersebut,” pungkas Perry.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
