Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) meluncurkan tiga buku strategi dan program edukasi sebagai upaya memperkuat literasi keuangan digital sekaligus mendorong tercapainya kesejahteraan keuangan masyarakat.
Inisiatif ini menjadi bagian dari arah kebijakan baru yang menempatkan kesejahteraan keuangan sebagai tujuan utama dalam penguatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia.
Kepala Departemen Ekonomi Keuangan Inklusi dan Hijau BI Anastuty K mengatakan istilah kesejahteraan keuangan kini semakin mendapat perhatian, terutama setelah kunjungan Queen Maxima ke Indonesia yang juga menyoroti pentingnya konsep tersebut dalam pengembangan sistem keuangan inklusif.
“Kata-kata sejahtera ini semakin menguat ketika kedatangan Queen Maxima ya. Jadi kesejahteraan menjadi suatu hal yang menjadi keniscayaan,” ujar Anastuty, dalam sebuah Talkshow, di Jakarta, akhir pekan lalu.
|Baca juga: Seng Hyup Shin Mundur dari Kursi Wakil Komisaris Utama KB Bank (BBKP), Ada Apa?
Ia menambahkan perubahan pendekatan tersebut juga sejalan dengan rencana transformasi Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI) yang berpotensi berganti nama menjadi Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan.
Menurut Anastuty, strategi yang disusun dalam tiga buku tersebut menargetkan tiga tahapan utama dalam perjalanan keuangan masyarakat. Tahap pertama adalah pemenuhan kebutuhan keuangan, yang berfokus pada masyarakat yang masih berada pada fase memenuhi kebutuhan dasar keuangannya.
Tahap kedua, ketahanan keuangan. Pada tahap ini, masyarakat diharapkan mampu menjaga kondisi keuangan agar tetap stabil ketika menghadapi situasi ekonomi tidak menentu. Sementara tahap ketiga adalah keuangan berkelanjutan yakni memastikan kondisi keuangan masyarakat dapat terus berkembang dan berkelanjutan.
|Baca juga: Daisuke Ejima Lengser, Nobuya Kawasaki Masuk Bursa Calon Direktur Utama Bank Danamon (BDMN)
|Baca juga: Perkuat Jajaran Pengawas, Tan Teck Long Resmi Jabat Komisaris OCBC (NISP)
“Strategi ini ada tiga sasaran utamanya. Pertama financial needs dan obligation. Kemudian setelah mereka mempunyai penghasilan atau kemudian terpenuhi kebutuhan, mereka harus resilient. Kemudian setelah resilient tentunya kita harus memastikan juga keuangan masyarakat bisa sustain, artinya berkelanjutan,” jelasnya.
Untuk mencapai sasaran tersebut, BI merumuskan sejumlah strategi utama. Salah satunya melalui peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan. Selain itu, strategi juga menekankan pentingnya perilaku keuangan yang tepat setelah masyarakat memiliki akses terhadap layanan keuangan.
“(Selain pengetahuan dan perilaku, strategi ini juga menekankan), penanaman sikap atau attitude atau tanggung jawab terhadap keuangan itu sendiri,” ucapnya.
|Baca juga: Tri Pakarta Syariah Resmi Meluncur, Bidik Jadi Pemain Utama!
Dalam implementasinya, program ini akan diperkuat melalui penguatan fundamental keuangan masyarakat, termasuk manajemen risiko, perlindungan konsumen, serta pengembangan nilai tambah melalui keuangan berkelanjutan.
Adapun pelaksanaan strategi tersebut dilakukan melalui tiga tahapan utama, yakni perencanaan, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi. Menurut Anastuty, aspek monitoring dan evaluasi menjadi elemen penting untuk memastikan efektivitas program literasi dan edukasi yang dijalankan.
“Ketika kita sudah memberikan edukasi, literasi kepada masyarakat, kemudian kita lakukan banyak pendampingan, tapi kemudian apa? Monitoring dan evaluasi yang harus kita lakukan. Supaya tahapan sasaran utama itu bisa tercapai di akhirnya,” tutup Anastuty.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
