Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memberi sinyal ruang penurunan suku bunga acuan atau BI Rate ke depan semakin terbatas. Hal itu seiring meningkatnya tekanan global akibat konflik geopolitik.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan meskipun suku bunga acuan saat ini masih dipertahankan, namun peluang untuk penurunan lebih lanjut cenderung mengecil.
“Mengenai suku bunga, meskipun BI Rate kami pertahankan 4,75 persen (pada Maret 2026), nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan semakin lama semakin tertutup,” kata Perry, dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 8 April 2026.
|Baca juga: BI: 2025 Tahun sulit, tapi Ekonomi RI Tetap Tumbuh 5,11%
Perry menjelaskan kondisi tersebut tidak terlepas dari dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang berkepanjangan, yang turut memengaruhi stabilitas ekonomi global dan arah kebijakan moneter.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah meningkatnya imbal hasil surat utang Pemerintah AS (US Treasury), baik tenor dua tahun maupun 10 tahun, yang mencerminkan tekanan di pasar keuangan global.
“Kami harus menyikapinya untuk menggunakan stabilitas,” tutur Perry.
|Baca juga: Prudential Indonesia Perkuat Keagenan dan Bancassurance Dorong Pertumbuhan Premi di 2026
|Baca juga: Konflik Timur Tengah Hantam Rantai Pasok dan Biaya Operasional, Industri Asuransi Siaga Penuh!
Kenaikan yield tersebut, lanjutnya, dipicu oleh membengkaknya defisit fiskal AS, terutama akibat peningkatan belanja untuk pembiayaan perang. Kondisi ini turut mendorong penguatan dolar AS serta meningkatkan risiko arus modal keluar dari negara berkembang.
Di sisi lain, konflik geopolitik juga memperburuk prospek ekonomi global. Tekanan juga datang dari lonjakan harga minyak dunia yang berdampak pada rantai pasok perdagangan internasional serta meningkatkan tekanan inflasi global.
“Melonjaknya harga minyak dunia berdampak negatif terhadap rantai pasok perdagangan antarnegara sehingga menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan meningkatkan tekanan inflasi global,” ungkap Perry.
BI mencatat inflasi global diperkirakan meningkat dari 3,8 persen menjadi 4,1 persen. Kenaikan ini berdampak pada semakin terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan moneter global, termasuk potensi tertundanya penurunan suku bunga acuan bank sentral AS (Fed Fund Rate).
|Baca juga: Dana Pensiun Mulai Terapkan Life Cycle Fund, OJK Soroti Tantangan Berikut!
|Baca juga: SMBC Indonesia (BTPN) Umumkan Pengunduran Diri Ninik Herlani dari Kursi Komisaris
|Baca juga: Jajaran Direksi CIMB Niaga (BNGA) Kompak Borong Saham Perusahaan, Apa Tujuannya?
Selain itu, tekanan di pasar keuangan global semakin meningkat, ditandai dengan penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta meningkatnya arus modal keluar dari negara berkembang.
“Suku bunga yield US treasury terus meningkat akibat membengkaknya defisit fiskal AS, termasuk kenaikan anggaran untuk pembiayaan perang,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
