1
1

BI Tegaskan Tidak Ada Tenor Jangka Pendek untuk BI-FRN, Ini Alasannya!

Gedung Bank Indonesia (BI). | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menegaskan penerbitan Bank Indonesia Floating Rate Notes (BI-FRN) tidak ditujukan untuk menyerap likuiditas secara masif seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Volume instrumen ini akan diterbitkan secara sangat terbatas karena fungsinya hanya sebagai pemicu transaksi di pasar Overnight Index Swap (OIS).

Kepala Grup Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Arief Rachman mengatakan BI-FRN disiapkan agar perbankan mulai terbiasa mengelola risiko suku bunga mengambang melalui transaksi lindung nilai. Karena itu, BI memastikan instrumen ini tidak akan diterbitkan dalam jumlah besar.

“Kita juga issuance-nya enggak sebesar SRBI. Nanti ada yang bilang, ‘Oh BI melakukan absorpsi terus’. Enggak. Ini dikeluarkan dalam jumlah yang sangat-sangat terbatas. Hanya cukup untuk men-trigger mereka bertransaksi di OIS,” tegas Arief, dalam Taklimat Media, di Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026.

Sejalan dengan tujuan tersebut, BI memastikan BI-FRN hanya diterbitkan dengan tenor 12 bulan dan tidak tersedia untuk jangka waktu di bawah satu tahun. Kebijakan ini sekaligus menutup kemungkinan penerbitan BI-FRN jangka pendek.

“Apakah akan mengeluarkan BI-FRN jangka pendek? Enggak, enggak usah. Kita hanya akan menerbitkan yang 12 bulan saja,” ujar Arief.

Menurut Arief, pembatasan tenor itu bukan keputusan kebijakan semata, melainkan konsekuensi dari regulasi. Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) hanya memperbolehkan bank sentral menerbitkan instrumen keuangan dengan jangka waktu maksimal satu tahun.

|Baca juga: Profil Budi Tampubolon, Dirut IFG Life yang Resmi Mengakhiri Masa Jabatannya per Januari 2026

|Baca juga: Masa Jabatannya Berakhir di IFG Life per Januari 2026, Berikut Profil Bugi Riagandhy

|Baca juga: OJK Cabut Izin Pendirian Unit Syariah PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia

Ia mengakui apabila aturan memberikan ruang lebih longgar, BI justru ingin menerbitkan instrumen dengan tenor lebih panjang seperti yang dilakukan sejumlah bank sentral di kawasan.

“Kalau BI boleh mengeluarkan dua tahun kayak Thailand, saya keluarkan yang dua tahun. Kalau boleh tiga tahun, saya keluarkan yang tiga tahun. Tapi karena undang-undang bilang kita hanya maksimum 12 bulan, maksimum yang bisa saya terbitin hanya 12 bulan,” ucapnya.

BI-FRN dirancang berbeda dari SRBI. Instrumen ini memiliki kupon mengambang yang bergerak setiap hari mengikuti pergerakan Indonesia Overnight Index Average (INDONIA). Dengan karakter tersebut, BI berharap perbankan, khususnya Dealer Utama (DU), memiliki eksposur langsung terhadap suku bunga floating.

Arief menjelaskan ketika suku bunga bergerak turun, pemegang BI-FRN berpotensi menanggung kerugian. Kondisi ini yang mendorong bank untuk masuk ke pasar OIS guna melakukan lindung nilai. “Kalau bank yang punya BI-FRN, suku bunganya turun, rugi enggak dia? Rugi kan? Dia akan beli OIS (untuk lindung nilai),” jelasnya.

Pemilihan tenor 12 bulan juga dinilai memberi ruang yang cukup luas bagi pelaku pasar dalam menentukan strategi hedging. Dengan underlying satu tahun, durasi lindung nilai dapat disesuaikan tanpa melampaui jangka waktu instrumen dasarnya.

“Yang satu bulan, tiga bulan, enam bulan kan tergantung mereka (bank), meng-hedging mau berapa lama? Misalnya saya hedge setiap tiga bulan, boleh toh? Setiap satu bulan boleh saya hedge rolling? Boleh,” kata Arief.

Lebih lanjut, BI menegaskan, BI-FRN tidak bersifat permanen. Instrumen ini dapat dihentikan apabila pasar OIS telah berkembang matang atau ketika pemerintah mulai menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dengan skema bunga mengambang untuk tenor jangka panjang.

“Jadi kita biarkan pasar dulu biasa bertransaksi dulu. Kenal instrumennya dulu. Tahu rasanya menggunakan instrumen floating itu kayak apa, ada deg-degannya ketika naik, ketika turun,” tutup Arief.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Aset Investasi Asuransi Syariah Naik 5,25%
Next Post Prediksi IHSG dan 6 Rekomendasi Saham Pilihan dari BNI Sekuritas Hari Ini

Member Login

or