Media Asuransi, JAKARTA – Dewan Ekonomi Nasional menilai meski ekonomi Indonesia tumbuh tinggi di 2025 dan tetap stabil di tengah ketidakpastian global namun tetap ada ruang peningkatan untuk perbaikan. Kemudian, ada Pekerjaan Rumah (PR) yang harus diselesaikan demi tumbuh lebih tinggi di masa mendatang.
“Masih terdapat ruang peningkatan untuk perbaikan dan PR yang harus diselesaikan, terutama kalau kita berharap (ekonomi) mau tumbuh di atas 5-6 persen atau 6-7 persen,” kata Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu, dalam webinar bertema ‘Economic Outlook 2026‘ yang digelar OJK Institute, Kamis, 19 Februari 2026.
Mari menilai ekonomi Indonesia perlu tumbuh sekitar 6-7 persen untuk optimal menyerap lapangan pekerjaan di dalam sektor formal dan mencapai Indonesia Emas di 2045. Selain itu, pemerintah dan pihak terkait harus bisa memaksimalkan bonus demografi yang ada di Tanah Air sebelum kondisi tersebut berakhir.
|Baca juga: Grup Manulife Bukukan Laba Bersih US$4,1 Miliar di 2025
“Jangan lupa, walaupun sekarang kita menganggap ada bonus demografi, sekitar 10-15 tahun lagi ini akan berakhir. Jadi kita juga harus mengantisipasi itu,” kata Mari.
Ia menambahkan terdapat beberapa masalah teratas yang paling mendesak yang harus diselesaikan dalam lima tahun ke depan. “Ini bagian dari PR yang harus dihadapi. Meredam harga bahan pokok, pemberantasan korupsi, dan penyediaan lapangan pekerjaan. Nomor tiga ini yang mungkin harus kita perhatikan secara khusus,” tegasnya.
Penyediaan lapangan pekerjaan dinilai Mari wajib menjadi perhatian secara khusus. Pasalnya, walaupun pengangguran terbuka mengalami penurunan namun penciptaan lapangan pekerjaan yang baru itu rata-rata berada di sektor informal yang gajinya rendah dan PHK di sektor formal masih meningkat.
|Baca juga: Dewan Ekonomi Nasional Sebut Ketidakpastian Global Takkan Mereda, Bagaimana Nasib RI?
|Baca juga: Bos BRI: Penetapan Premi Asuransi Parametrik Harus Lebih Granular
“Yang lebih mengkhawatirkan, yang menganggur itu lebih banyak kaum muda, sekitar 25 persen dan yang lebih terdidik. Jadi ini sumber ketegangan sosial kalau kita tidak mengatasi dengan penciptaan lapangan pekerjaan yang baru,” ucapnya.
Ekonomi dunia melambat di 2026
Dirinya menjelaskan IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat di 2026. Sementara di 2025, kinerja perekonomian terbantu lantaran ada dorongan ekspor akibat banyak negara yang berlomba-lomba untuk mengirim barang ke Amerika Serikat sebelum tarif resiprokal naik.
“Tetapi di tahun ini diperkirakan akan turun, perdagangan akan turun, pertumbuhan akan turun, dan ini berimbas ke Indonesia dalam arti permintaan untuk barang-barang kita terutama energi, batu bara, dan kelapa sawit, misalnya, itu akan turun juga,” tegasnya.
Kemudian yang menjadi pertanyaan besar, masih kata Mari, pada tahun lalu banyak yang memprediksi tindakan AS akan menyebabkan perlambatan pertumbuhan di Negara Paman Sam maupun membuat inflasi naik. Akan tetapi, situasi terjadi sebaliknya di mana perekonomian AS tetap tumbuh tinggi akibat dorongan dari kecerdasan buatan.
|Baca juga: Siasat J&T Express Hadapi Lonjakan Pengiriman Selama Ramadan 2026
|Baca juga: Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global yang Tinggi
“Apa yang terjadi? Ekonomi Amerika tetap tumbuh tinggi karena dorongan dari AI maupun ada stimulus fiskal yang dilakukan melalui penurunan pajak,” tukasnya.
Dirinya tidak menampik banyak pihak mengatakan waspada terhadap risiko pecahnya bubble kecerdasan buatan di Amerika Serikat. Mari mengaku mempunyai data jika dorongan AI dikeluarkan dari data ekonomi AS maka pertumbuhannya jauh lebih rendah. Artinya hal tersebut patut diwaspadai.
“Jadi ini yang mungkin perlu diwaspadai. Kalau kita melihat nanti dampak Amerika kepada kita maupun melalui tingkat suku bunga yang akan ditetapkan oleh Federal Reserve dan kemudian imbasnya ke kita dan seterusnya,” tukasnya.
|Baca juga: Purbaya Setujui Tambahan TKD Rp10,65 Triliun untuk Pemulihan Bencana di Sumatra
|Baca juga: BEI Perpanjang Suspensi Saham WIKA Imbas Penundaan Pembayaran Bunga Obligasi dan Sukuk
Di sisi lain, Mari mengaku membawa kabar baik yakni tingkat kepuasan Presiden Prabowo Subianto mencapai angka 79,9 persen dengan kondisi ekonomi dipandang terus membaik. Data itu didapat dari survei Indikator yang dilakukan pada Januari 2026.
“Alasan mengapa dianggap masyarakat puas itu adalah karena berbagai program Presiden terutama dibilang sering memberi bantuan ya, itu terkait dengan bansos, terkait dengan MBG, dan program kerjanya bagus ya. Terkait MBG khususnya, ternyata 72,8 persen puas dengan program MBG,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
