Media Asuransi, JAKARTA – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti membeberkan lima karakteristik utama prospek ekonomi global yang perlu diwaspadai. Hal itu penting karena berpotensi memberi tekanan besar terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Destry menjelaskan karakteristik pertama adalah ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) yang belum berakhir. Ia menyoroti ancaman tarif terhadap negara-negara Eropa yang berseberangan dengan kepentingan AS, termasuk isu geopolitik seperti rencana menguasai Greenland.
“Tadi pagi baru saya lihat AS mengancam akan menggunakan tarif untuk negara Eropa yang melawan dengan niatnya menguasai Greenland. Tentunya itu kata-kata, tapi kalau diimplementasikan dampaknya akan luar biasa. Seperti Indonesia, akhirnya kita terkena tarif 20 persen, dan negara lain dengan macam-macam tarifnya,” ujarnya, Kamis, 22 Januari 2026.
Menurutnya dampaknya akan sangat besar mulai dari meningkatnya biaya produksi, naiknya harga, hingga terganggunya ekspor, yang pada akhirnya membawa persoalan geopolitik masuk ke ranah ekonomi.
|Baca juga: BI Catat QRIS Tap Tembus 1,44 Juta Transaksi Senilai Rp28 Miliar di Triwulan IV/2025
|Baca juga: Penuhi Ketentuan Ekuitas Minimum, Asuransi Harta Aman Pratama (AHAP) Siap Tambah Modal di 2026
|Baca juga: HSBC Indonesia Optimistis Sektor Pariwisata Tetap Tangguh Meski Ketegangan Geopolitik Jepang-China Memanas
Karakteristik kedua adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa diperkirakan mengalami pertumbuhan yang lebih rendah pada 2026 dari 2025, bahkan cenderung stagnan. Sebaliknya, negara berkembang seperti India dan Indonesia dinilai masih relatif stabil.
“Dengan pertumbuhan kita yang relatif stabil di lima persen, bahkan di 2025 juga kita masih memperkirakan lima persen itu bisa tercapai. Karena kami pakai kisaran dari 4,7 persen sampai 5,5 persen. Saya rasa lima persen itu adalah achievable untuk Indonesia 2025,” ujarnya.
Karakteristik ketiga adalah tingginya utang publik atau public debt di banyak negara maju. Beban utang yang melonjak sejak pandemi covid-19 akibat kebijakan defisit anggaran besar-besaran hingga kini masih berlanjut. Kondisi ini mendorong tekanan inflasi dan membuat suku bunga global sulit turun.
“Kalau dari The Fed kan pandangannya tidak akan terlalu banyak, karena ternyata di sana juga ada masalah inflasi yang naik, di mana inflasi itu part of itu penyebabnya adalah adanya tarif juga,” kata Destry.
Keempat, kondisi tersebut memicu fragile global financial market atau pasar keuangan global yang rapuh. Perlambatan ekonomi dan ketidakpastian global membuat arus dana ke negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi terbatas meskipun imbal hasil instrumen domestik relatif menarik.
|Baca juga: BI Catat Transaksi Digital Melesat di Triwulan IV/2025, Berikut Rinciannya!
|Baca juga: Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI, Peredaran Uang Primer Naik 11,4% di Desember 2025
|Baca juga: Dinamika Global Masih Berlanjut, BI Siapkan Banyak Jurus untuk Jaga Stabilitas Rupiah
Dalam situasi ini, investor global cenderung mengalihkan dana ke safe haven assets seperti emas dan perak,“Jadi dianggapnya ini adalah quality aset yang bisa mengamankan mereka,” kata Destry.
Karakteristik kelima adalah kompleksitas ekonomi digital dan kripto, termasuk pergerakan kripto, stablecoin, dan bitcoin yang dinilai membentuk ‘dunia baru’ di luar sektor riil. Perputaran aset digital ini berpotensi mengganggu keseimbangan sektor riil jika terjadi gelembung atau bubble.
Karena itu, banyak negara kini bergulat mencari cara mengawasi transaksi kripto dan stablecoin agar tidak menimbulkan risiko sistemik. Lebih lanjut, Destry mengungkapkan, kelima karakteristik tersebut adalah faktor global yang saling terkait dan membentuk tekanan struktural terhadap ekonomi dunia.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
