1
1

Bos BI: Cadangan Devisa Menguat dan Rupiah Tetap Terkendali di Tengah Tekanan Global

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. | Foto: Bank Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sekaligus Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga dengan baik di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Hingga akhir Desember 2025, posisi cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi US$156,5 miliar.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Kondisi tersebut mencerminkan kuatnya fundamental eksternal Indonesia dalam menghadapi tekanan global.

“Posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2025 meningkat menjadi sebesar US$156,5 miliar atau setara 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional,” ujar Perry, dalam konferensi pers Rapat Hasil KSSK, Selasa, 27 Januari 2026.

Di sisi nilai tukar, rupiah pada 31 Desember 2025 tercatat berada di level Rp16.675 per dolar AS, melemah 3,48 persen secara point to point dibandingkan dengan akhir 2024. Selanjutnya, hingga 23 Januari 2026, rupiah kembali melemah ke level Rp16.815 per dolar AS atau turun 0,83 persen dibandingkan dengan posisi akhir Desember 2025.

|Baca juga: Direksi BTN dan BNI Diminta Tekan Rasio Kredit Menganggur di 2026

|Baca juga: Rapat Komisi XI DPR Tetapkan Thomas Djiwandono Jadi Deputi Gubernur BI

|Baca juga: Terpilih Jadi Deputi Gubernur BI, Berikut Profil Thomas Djiwandono

Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing seiring meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, meningkatnya permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik, yang sejalan dengan aktivitas ekonomi, turut memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah.

“Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global serta kenaikan permintaan valas oleh perbankan dan korporasi domestik,” kata Perry.

Ke depan, BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Upaya tersebut dilakukan melalui intervensi yang terukur di pasar Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar spot, serta penguatan strategi operasi moneter yang pro-market.

Dengan berbagai langkah tersebut, nilai tukar rupiah diperkirakan tetap stabil dengan kecenderungan menguat. Stabilitas tersebut didukung oleh imbal hasil aset domestik yang menarik, inflasi yang terjaga rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BI Perpanjang Relaksasi Kartu Kredit dan Tarif SKNBI hingga Juni 2026
Next Post OJK Siapkan Banyak Amunisi untuk Jaga Stabilitas Sistem Keuangan

Member Login

or