1
1

CORE Indonesia Prediksi Produksi Beras Turun 5% di 2026 Akibat El Nino

Research Associate Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa, dalam CORE Outlook Sektoral bertajuk 'Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi', Selasa, 20 Januari 2026. | Foto: Media Asuransi/Sarah Dwi Cahyani

Media Asuransi, JAKARTA – Research Associate Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa memprediksi produksi beras pada 2026 berpotensi turun hingga lima persen. Hal tersebut lantaran kondisi El Nino yang akan terjadi selama satu tahun atau hingga Juli 2027.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, produksi beras sampai dengan Desember 2025 mencapai 34,77 juta ton atau naik 13,54 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024.

“Kenapa produksi tahun lalu naik sangat tinggi? Kita posisinya saat itu adalah La Nina. Kalau La Nina produksi pasti naik. Tapi kalau El Nino produksi pasti turun,” ujar Andreas, dalam CORE Outlook Sektoral bertajuk ‘Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi‘, Selasa, 20 Januari 2026.

|Baca juga: Dicecar BEI tentang Volatilitas Saham, Manajemen Saratoga Investama (SRTG) Buka Suara!

|Baca juga: Lagi, Prajogo Pangestu Borong 1 Juta Saham Barito Renewables Energy (BREN)

|Baca juga: BRI (BBRI) Siap Tebar Dividen Interim Rp137 per Saham, Cek Jadwal Lengkapnya di Sini!

Andreas menjelaskan berdasarkan perhitungan lembaga internasional, Indonesia akan mengalami El Nino dari Juli 2026 hingga Juli 2027. “Untuk itu prediksi saya, produksi beras 2026 berpotensi turun hingga lima persen,” ungkapnya.

Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Sugeng Harmono menambahkan Indonesia merupakan negara yang sangat berdampak terhadap perubahan iklim.

“Indonesia ini sangat rentan akan dampak perubahan iklim. Terakhir, bencana geo-hidrometeorologi yang di tiga provinsi Sumatra. Itu bukan climate crisis, tapi climate disaster,” klaim Sugeng.

Sugeng menyatakan hal tersebut harus ditangani dengan tepat. Pasalnya, selain berdampak terhadap manusia, juga berimbas kepada lahan pertanian di Tanah Air. Salah satunya seperti 102 ribu hektare yang terdampak dan terjadi di lahan pertanian tiga provinsi usai bencana banjir bandang Sumatra.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post IHSG Selasa Ditutup Naik Tipis ke Level 9.134
Next Post Generali Indonesia Gandeng Kreativitas Anak Muda Lewat YESMC

Member Login

or