Media Asuransi, JAKARTA – Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menilai ketidakpastian global masih berada pada level tinggi di tengah proyeksi perlambatan ekonomi dunia yang turut memengaruhi Indonesia. Risiko geopolitik, perubahan iklim ekstrem, hingga potensi konflik antarnegara dinilai menjadi faktor utama yang perlu terus diwaspadai.
Anggota DEN Septian Hario Seto mengungkapkan eskalasi ketegangan di sejumlah kawasan, mulai dari Eropa hingga konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Iran, dan Israel, serta dinamika geopolitik lainnya, berpotensi berdampak besar terhadap perekonomian global apabila berkembang menjadi konflik terbuka.
Septian juga menyoroti ancaman perubahan iklim yang kian nyata, seiring meningkatnya intensitas bencana alam di dalam negeri. Ia mencontohkan banjir di Pulau Sumatra serta curah hujan tinggi yang terjadi di Pulau Jawa dalam beberapa hari terakhir sebagai indikasi risiko iklim yang semakin ekstrem.
“Dari DEN kami melihat, sebenarnya dari sisi global dan geopolitik ini ketidakpastiannya sangat tinggi. Ditambah lagi kalau kita lihat ancaman perubahan iklimnya ini akan cukup ekstrem,” ujarnya, dalam panel diskusi Nusantara Economic Outlook (NEO) 2026 di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
|Baca juga: Mantan Menkeu Fuad Bawazier Kritik Pemerintah terkait Pengelolaan Utang dan Arah Pembangunan Ekonomi RI
Meski demikian, DEN mencermati adanya sejumlah perkembangan positif, terutama terkait meredanya ketegangan perang dagang global. Septian menyebutkan isu tarif mulai menemukan titik temu, seiring adanya konsesi tarif di Amerika Serikat kepada India.
“Kalau saya dengar dari teman-teman Kemenko Perekonomian, kita akan dapat beberapa tarif yang lebih rendah dari 19 persen untuk produk-produk kita. Jadi itu akan bagus untuk penyerapan tenaga kerja,” jelasnya.
Dari sisi domestik, kinerja konsumsi pada kuartal IV/2025 menunjukkan tren pemulihan yang menggembirakan. “Jadi kalau kita lihat penyebabnya, setidaknya ada tiga hal. Pertama memang dari sisi belanja pemerintah yang mulai digelontorkan oleh Pak Purbaya di Q3, Q4. Ini berdampak cukup baik terhadap sentimen di pasar,” ujarnya.
|Baca juga: Pengendalian Penyakit Katastropik Jadi Kunci Utama Tekan Defisit BPJS Kesehatan
|Baca juga: Pemerintah Gelontorkan Stimulus saat IMF Proyeksikan Ekonomi RI Tetap Tangguh di 2026
Faktor pendukung lainya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai menjadi bantalan penting bagi kinerja konsumsi masyarakat. Pada kuartal IV/2025, jumlah penerima MBG tercatat mencapai 55 juta orang dan meningkat menjadi 60 juta orang per awal Januari 2026.
Selain itu, penurunan signifikan transaksi judi daring hingga hampir 68 persen, berdasarkan data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), turut memperbaiki kualitas konsumsi masyarakat.
“Jadi belanja pemerintahnya bagus, judi daringnya turun, terus MBG-nya berjalan dengan baik. Kita lihat perbaikan di Q4-nya itu berjalan sangat menggembirakan,” pungkas Septian.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
