Media Asuransi, JAKARTA – Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengaku pihaknya terus mencermati efek dari pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan bagaimana dampak assessment dari Moody’s. Hal itu lantaran berimbas terhadap perekonomian dan pasar keuangan Indonesia.
“Tentunya ini cukup berdampak kepada pasar keuangan domestik di jangka pendek dan terutama lagi kalau kita highlight, mencermati bagaimana assessment dari MSCI dan juga Moody’s,” kata Josua, dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, Jumat, 20 Februari 2026.
|Baca juga: Permata Bank Nilai Suku Bunga Kredit Perbankan Berpeluang Turun Bertahap
Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi baik secara umum. Meski dirinya tidak menampik terdapat sejumlah masukan yang pemerintah harus perhatikan dan waspadai. Hal itu terutama terkait bagaimana optimalisasi ruang fiskal, peningkatan tax ratio, optimalisasi peningkatan perpajakan, dan produktivitas belanja.
“Lalu juga bagaimana produktivitas pertumbuhan ekonomi agar bisa menciptakan lapangan pekerjaan lebih tinggi lagi. Sehingga sebenarnya masukan-masukan atau pun assessment dari Moody’s dan juga MSCI ini perlu kita respons secara positif,” tukasnya.
|Baca juga: Ekonom Permata Bank Beberkan 4 Risiko Global yang Berdampak ke Ekonomi RI
“Dan tentunya harus ada perbaikan yang lebih baik lagi dari kebijakan-kebijakan untuk bisa meningkatkan produktivitas di jangka panjangnya,” tambahnya.
Josua menilai efek dari MSCI dan penilaian Moody’s akan bersifat jangka pendek. Misalnya memberikan pengaruh terhadap nilai tukar rupiah dan juga indikator pasar keuangan domestik. Hal seperti ini yang patut menjadi perhatian dan nantinya diantisipasi agar tidak menimbulkan risiko.
“Kemarin mungkin menjadi salah satu highlight juga, pertanyaan mengapa nilai tukar rupiah kita masih melemah atau dari sisi penilaian apakah ini undervalue atau apakah sudah undervalue atau belum? Tentunya ini menjadi salah satu pertanyaan besar buat kita semua,” tuturnya.
|Baca juga: Pengguna iPhone Diminta Bersabar, QRIS Tap Tunggu Akses NFC dari Apple
|Baca juga: Rupiah Masih Undervalue Meski Fundamental Kuat, Ini Penjelasan Bos BI!
Akan tetapi, lanjutnya, jika diletakan pada faktor fundamental maka seharusnya kondisi indikator pasar domestik belum mencerminkan sepenuhnya faktor fundamental. Pasalnya, data-data makro secara umum semuanya terbilang cukup baik.
“Artinya tadi ada hal-hal yang kualitatif dari internal yang harus ditingkatkan dan dioptimalkan sehingga akan bisa meningkatkan juga dari sisi assessment dari lembaga rating dan juga lembaga-lembaga internasional lainnya,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
