1
1

Ekonom Nilai Tarif 0% ke AS Berpotensi Dorong Ekspor Tekstil dan Alas Kaki Indonesia

Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi. | Foto: Media Asuransi/Angga Bratadharma

Media Asuransi, JAKARTA – Kesepakatan tarif resiprokal sebesar 19 persen antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS), yang dibarengi komitmen investasi senilai US$ 38,4 miliar di sektor strategis, dinilai berpotensi membuka ruang pemulihan bagi industri padat karya berorientasi ekspor.

Namun, pelaku usaha masih menunggu rincian teknis implementasi, khususnya terkait daftar produk dan skema tarif yang berlaku.

Head of Industry & Regional Research Permata Bank Adjie Harisandi mengatakan kesepakatan tersebut masih sangat baru sehingga perlu dicermati lebih lanjut, terutama terkait sekitar 1.800 produk yang disebut masuk dalam perjanjian.

“Kalau kita lihat sih memang sebetulnya ini baru banget tadi pagi terkait dengan Pak Prabowo setelah menandatangani agreement on reciprocal trade dengan Amerika Serikat,” ujar Adjie dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, Jumat, 20 Februari 2026.

|Baca juga: Permata Bank Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% di 2026

|Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,11% di 2025, Permintaan Domestik Masih Jadi Jangkar Utama!

|Baca juga: Ekonomi RI di 2026 Dinilai Solid tapi Ruang Kebijakan Fiskal dan Moneter Terbatas

“Dan kalau kita lihat sebetulnya di situ disebutkan ada beberapa 1.800 produk tapi kita harus lihat lebih detail dulu terkait dengan apa saja produknya,” tambah Adjie.

Ia menambahkan berdasarkan informasi awal, sektor tekstil dan garmen disebut berpeluang mendapatkan tarif nol persen. Namun, mekanisme yang digunakan adalah tariff rate quota atau kuota tarif.

“Namun Pak Airlangga tadi sedikit men-spill tekstil dan garmen itu bisa menjadi nol persen. Namun mekanismenya adalah tarif rate kuota. Jadi dugaan saya ada kuota tertentu tarifnya nol, lalu mungkin di atas itu jadi ada berapa persen tarifnya. Tapi kita harus bisa lihat spesifik detailnya,” katanya.

|Baca juga: Efek MSCI dan Moody’s Dinilai Bersifat Jangka Pendek terhadap Pasar Keuangan RI

|Baca juga: Rupiah Belum Aman, Ekonom Permata Bank Sebut Tekanan Global dan Domestik Masih Menghantui

|Baca juga: Premi Industri Asuransi Umum Tembus Rp112,81 Triliun di Kuartal IV/2025

Adjie menjelaskan jika benar terdapat penurunan tarif hingga nol persen untuk produk tertentu maka hal tersebut berpotensi mendorong kinerja ekspor industri padat karya, khususnya sektor yang sangat bergantung pada pasar Amerika Serikat seperti footwear, garmen, dan tekstil.

Menurut dia, selama ini sebagian besar sektor manufaktur berbasis ekspor Indonesia memang mengarah ke pasar AS. Dengan adanya insentif tarif, daya saing produk dalam negeri berpotensi meningkat, terutama jika dibandingkan dengan negara pesaing.

|Baca juga: Sah! Ini Susunan Dewan Pengawas dan Direksi Baru BPJS Kesehatan 2026-2031

|Baca juga: Ekonom Permata Bank Beberkan 4 Risiko Global yang Berdampak ke Ekonomi RI

|Baca juga: Permata Bank Nilai Suku Bunga Kredit Perbankan Berpeluang Turun Bertahap

Meski demikian, Adjie mengingatkan, dampak positifnya sangat bergantung pada posisi tarif negara kompetitor Indonesia. Ia mencontohkan Vietnam dan Bangladesh yang juga menjadi pesaing kuat di sektor tekstil dan alas kaki.

“Kalau mereka seandainya memang kita memang dapat special treatment dan kita bisa nol persen, kami duga sih memang ini bisa cukup mendorong ya untuk kinerja ekspor kita, terutama dari industri yang berbasis ekspor tadi,” ujarnya.

Secara keseluruhan, outlook industri padat karya dinilai cenderung positif dalam jangka menengah, dengan catatan Indonesia mampu memperoleh perlakuan tarif yang lebih kompetitif dibanding negara pesaing.

Namun, menurut Adjie, kepastian detail skema tarif dan kuota akan menjadi penentu utama seberapa besar dorongan terhadap ekspor dan keberlanjutan sektor padat karya ke depan.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BI Perpanjang Jadwal Pemesanan Penukaran Uang Rupiah di Program SERAMBI 2026
Next Post Kemenkeu dan BI Komitmen Penerbitan dan Pembelian SBN Dilakukan Transparan

Member Login

or