1
1

Ekonom Permata Bank Beberkan 4 Risiko Global yang Berdampak ke Ekonomi RI

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. | Foto: Media Asuransi/Angga Bratadharma

Media Asuransi, JAKARTA – Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menilai 2026 masih terdapat tantangan yang menghadang perekonomian global termasuk bagi Indonesia. Hal tersebut patut diwaspadai dan diantisipasi sebaik mungkin guna meminimalisir risiko.

“2026 ini masih kami tetap melihat bahwa ada faktor risiko dari global yang akan tetap ekonomi Indonesia alami atau kita akan hadapi,” kata Josua, dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, Jumat, 20 Februari 2026.

|Baca juga: Rupiah Masih Undervalue Meski Fundamental Kuat, Ini Penjelasan Bos BI!

Ia menjelaskan faktor pertama risiko tersebut lantaran masih berkaitan dengan tensi geopolitik yang memberikan dampak risk off di pasar keuangan domestik. Bahkan, dirinya menilai, dampaknya bakal berpengaruh dalam jangka pendek.

Kedua, lanjutnya, berkaitan dengan tensi perang dagang. Meski saat ini Presiden Prabowo Subianto sedang berada di Amerika Serikat (AS) dan tengah dalam tahap negosiasi dengan Negara Paman Sam, namun kondisi tensi perang dagang tetap menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai.

|Baca juga: Peluang Industri Perbankan Terbuka Lebar di 2026, Kuncinya BI Rate dan Stimulus Fiskal!

|Baca juga: Pengguna iPhone Diminta Bersabar, QRIS Tap Tunggu Akses NFC dari Apple

Apabila melihat kinerja perdagangan pada tahun lalu dan secara khusus ekspor Indonesia ke AS maka terlihat terdapat faktor front loading, khususnya mulai terjadi di semester pertama. Akan tetapi, di semester kedua kinerja ekspor Indonesia ke Negara Paman Sam sudah mulai menunjukkan tanda-tanda normalisasi.

“Artinya efek dari tekanan (tarif) resiprokal itu sudah mulai take in place. Dan ini tentunya dampak penuhnya akan mulai terindikasi di tahun ini. Sehingga ini yang harus kita antisipasi,” kata Josua.

|Baca juga: Bos BRI Beberkan Persoalan Perbankan Bukan di Likuiditas tapi di Permintaan Kredit

|Baca juga: Ekonomi Global Disebut Dibayangi Ketidakpastian Sangat Tinggi, Begini Penjelasan Lengkapnya!

Ketiga, Josua mengatakan, yang harus diantisipasi dan akan memengaruhi ekonomi Indonesia secara keseluruhan adalah berkaitan dengan divergensi arah suku bunga kebijakan moneter global. Bank sentral Inggris, misalnya, menunjukkan tanda-tanda untuk mulai mengerem penurunan suku bunganya.

Di sisi lain, bank sentral Amerika yakni The Fed masih mempunyai ruang untuk pemangkasan suku bunga acuan meski relatif lebih terbatas dibandingkan dengan tahun lalu. Sedangkan bank sentral Jepang terlihat tren kenaikan suku bunga masih terus berlanjut sampai dengan dua tahun ke depan.

|Baca juga: BI Pede Ekonomi RI Bakal Melejit 5,7% di 2026

|Baca juga: BI Terapkan Strategi Ini Pastikan Inflasi Ramadan dan Lebaran 2026 Terkendali

“Sehingga ini pun juga menunjukkan divergensi arah kebijakan suku bunga global memberikan dampak pada jangka pendek namun juga jangka menengah panjang,” jelasnya.

Keempat, dampak atau faktor yang kemungkinan berpengaruh dalam jangka menengah panjang yakni berlanjutnya perlambatan ekonomi China secara konsisten. Kondisi ini tentunya perlu diantisipasi karena dampaknya cukup berpengaruh bukan hanya kepada perdagangan Indonesia.

|Baca juga: Bidik Pertumbuhan 7%, Dewan Ekonomi Nasional: Terdapat Ruang Peningkatan untuk Perbaikan

|Baca juga: Kredit Bank Tumbuh 9,96% di Januari 2026, BI Pastikan Kondisi Perbankan Tetap Kuat

“Karena dampaknya akan cukup berpengaruh bukan hanya kepada perdagangan Indonesia mengingat China merupakan mitra dagang utama Indonesia, namun juga kita perlu mengantisipasi dampaknya terhadap pelemahan investasi. Jadi kurang lebih faktor risikonya masih berkaitan dengan kondisi globalnya,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Pengguna iPhone Diminta Bersabar, QRIS Tap Tunggu Akses NFC dari Apple
Next Post Danamon Bukukan Pertumbuhan Laba Bersih 14% di Tahun Buku 2025

Member Login

or