Media Asuransi, JAKARTA – Permata Institute for Economic Research (PIER) merilis analisis terbaru mengenai kinerja ekonomi Indonesia sepanjang 2025. Setidaknya terdapat lima kesimpulan yang bisa disampaikan terkait perekonomian Tanah Air di tengah ketidakpastian yang sedang terjadi.
“Terkait highlight-nya mungkin lima kesimpulannya adalah pertama pertumbuhan ekonomi (Indonesia) 2026 masih tetap solid. Tapi tadi ruang kebijakan relatif terbatas dari sisi fisikal dan juga moneter,” kata Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, Jumat, 20 Februari 2026.
Kedua, risiko terbesarnya yakni dari aspek global dan juga dari sisi bagaimana meningkatkan kepercayaan dari para pelaku, investor asing, dan juga dari sisi pelaku bisnis. Ketiga, bagaimana transmisi pelonggaran moneter bisa dioptimalkan kepada sektor riil. Keempat, kebijakan fisikal ekspansif masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.
|Baca juga: Permata Bank Nilai Suku Bunga Kredit Perbankan Berpeluang Turun Bertahap
|Baca juga: Rupiah Belum Aman, Ekonom Permata Bank Sebut Tekanan Global dan Domestik Masih Menghantui
“Tapi memang ini meningkatkan sensitivitas di pasar,” jelasnya.
Kelima, bagaimana strategi menghadapi 2026 menuntut keseimbangan antara bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi dan juga menjaga stabilitas serta juga bagaimana meningkatkan optimalisasi dari sisi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa mendatang.
Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tercatat 5,11 persen secara tahunan (yoy) pada 2025, meningkat dibandingkan dengan realisasi 2024 sebesar 5,03 persen yoy.
|Baca juga: BI Pastikan QRIS Bisa Digunakan di China-Korsel Mulai Awal April 2026
|Baca juga: Ekonom Permata Bank Beberkan 4 Risiko Global yang Berdampak ke Ekonomi RI
|Baca juga: Efek MSCI dan Moody’s Dinilai Bersifat Jangka Pendek terhadap Pasar Keuangan RI
Penguatan terutama terlihat pada triwulan IV/2025 yang tumbuh 5,39 persen yoy, menjadi laju tertinggi sejak triwulan III/2022, menegaskan momentum ekonomi yang membaik di penghujung tahun.
Kinerja tersebut menunjukkan daya tahan permintaan domestik tetap solid di tengah ketidakpastian global, ditopang konsumsi rumah tangga yang terjaga serta aktivitas investasi yang menguat.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
