Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat secara global masih banyak ketidakpastian yang tinggi terjadi dan dampaknya bisa sampai ke Indonesia. Pada konteks ini, perlu ada upaya bersama untuk meminimalisir risiko tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner (DK) OJK Friderica Widyasari Dewi menyatakan jika mengamati bagaimana dinamika di sektor jasa keuangan Indonesia maka tentunya tidak terlepas dari perkembangan perekonomian global dan ekonomi domestik.
“Tentu saja yang saat ini kita masih melihat secara global masih banyak sekali ketidakpastian yang sangat tinggi,” kata Kiki, sapaan akrabnya, dalam webinar bertema ‘Economic Outlook 2026‘ yang digelar OJK Institute, Kamis, 19 Februari 2026.
|Baca juga: Begini Strategi PTPP Sinergikan K3, ESG, dan Transportasi Hijau
|Baca juga: Yasunori Suita Ditunjuk Jadi Wakil Presiden Direktur Bussan Auto Finance
Selain itu, ia menambahkan, risiko global pun terus meningkat dari waktu ke waktu. “Down risk global terus meningkat seiring berlanjutnya fragmentasi geopolitik dan geoekonomi serta meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap potensi pembentukan asset price bubble pada sektor artificial intelligence,” jelasnya.
Dirinya menegaskan kondisi tersebut tentunya mendorong peningkatan volatilitas di pasar keuangan global, memperpanjang fase kebijakan moneter ketat, dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global ke level di bawah rata-rata historis jangka panjang.
Kinerja perekonomian Indonesia tetap terjaga
Namun demikian, lanjutnya, di tengah tantangan global tersebut, patut disyukuri kinerja perekonomian Indonesia tetap terjaga dan menunjukkan ketahanan yang solid. Pertumbuhan ekonomi nasional secara konsisten berada di kisaran lima persen.
|Baca juga: Jumlah Dewan Pengawas BPKH Diusulkan Ditambah, Apa Urgensinya?
|Baca juga: Legislator: Daerah yang Capai UHC Mampu Cegah Turunnya Kepesertaan Akibat Penonaktifan PBI JKN
“Sepanjang 2025, perekonomian domestik tumbuh 5,11 persen secara tahunan. Ini lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya. Dan juga kita melihat bagaimana di kuartal IV/2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,39 persen year on year. Ini merupakan salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20,” ucapnya.
Kinerja intermediasi keuangan yang tetap ekspansif
Sejalan dengan data itu, masih kata Kiki, data BPS menunjukkan sektor jasa keuangan tumbuh sebesar 7,92 persen secara tahunan pada periode yang sama, merupakan laju pertumbuhan tertinggi sejak kuartal II/2021. Capaian tersebut didorong oleh kinerja intermediasi keuangan yang tetap ekspansif.
|Baca juga: Purbaya Setujui Tambahan TKD Rp10,65 Triliun untuk Pemulihan Bencana di Sumatra
|Baca juga: BEI Perpanjang Suspensi Saham WIKA Imbas Penundaan Pembayaran Bunga Obligasi dan Sukuk
“Tercermin dari pertumbuhan kredit serta perbaikan kinerja sektor asuransi dan dana pensiun yang kembali tumbuh positif setelah mengalami kontraksi dalam dua tahun sebelumnya” tukasnya.
Di sisi lain, Kiki menjelaskan, kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian nasional terpantau terus meningkat. Hal tersebut tercermin dari rasio aset dan produk keuangan Indonesia yang saat ini sudah mencapai 184 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
|Baca juga: Perdebatan Penjaminan Polis Asuransi Jadi Sorotan Legislator, Jiwa Saja atau Semuanya?
|Baca juga: MNC Sekuritas Sarankan 4 Saham Ini saat IHSG Berpotensi Lanjutkan Koreksi
“Perkembangan tersebut sejalan dengan meningkatnya peran pasar modal dalam pembiayaan perekonomian nasional serta semakin luasnya diversifikasi produk keuangan yang tersedia bagi masyarakat dan pelaku usaha,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
