1
1

Indonesia Wajib Pertahankan Konsumsi Domestik untuk Pacu Perekonomian

Ilustrasi. | Foto: Kementerian Keuangan

Media Asuransi, JAKARTA – Ekonom Universitas Indonesia (UI) Ninasapti Triaswati menilai konsumsi domestik masih menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Kontribusi konsumsi domestik menjadi yang terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kondisi itu membuat Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang terbilang kuat. “Jadi walaupun konsumsinya besar, itu menunjukkan resiliensi dari sisi perekonomian domestik dan menjadi tulang punggung perekonomian kita,” ujar Ninasapti, di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.

Meski demikian, ia mengingatkan, ketahanan konsumsi sangat bergantung pada daya beli masyarakat. Ketika daya beli tergerus, konsumsi sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi berpotensi melemah. Menurutnya, konsumsi selama ini terbukti menopang pertumbuhan, namun tetap menghadapi sejumlah tantangan struktural.

|Baca juga: Mantan Menkeu Fuad Bawazier Kritik Pemerintah terkait Pengelolaan Utang dan Arah Pembangunan Ekonomi RI

|Baca juga: DEN Bawa Kabar Baik untuk Ekonomi RI di Tengah Tingginya Ketidakpastian Global

|Baca juga: DEN Minta Pemerintah Pelototi Pendapatan Pajak di 2026, Ada Apa?

Salah satu tantangan utama adalah penurunan jumlah dan proporsi kelas menengah. Ninasapti menyebutkan, dalam periode 2019–2024, jumlah kelas menengah mengalami penurunan sekitar 10 juta orang yakni dari 57 juta menjadi 40 juta.

Secara proporsi, kelas menengah juga menyusut dari sekitar 20 persen menjadi 18 persen dari total populasi. “Jadi yang miskin mengecil, yang rentan meningkat atau naik kelas, ke kelas menengah. (Sehingga) kelas menengahnya harusnya naik. Namun ini yang tampaknya tidak terjadi,” ucapnya.

Tantangan ke depan, lanjutnya, adalah memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu menciptakan mobilitas sosial yang positif sehingga konsumsi tetap menjadi mesin utama pertumbuhan Tanah Air.

“Artinya tantangan kita ke depan bagaimana kelas menengah, yang tulang punggung perekonomian kita itu ada di situ (naik kelas)” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post 18 Proyek Hilirisasi Senilai Rp618 Triliun Siap Serap 276.000 Tenaga Kerja
Next Post Bos Hermina Kembali Serok Saham HEAL, Sinyal Positif Buat Investor?

Member Login

or