1
1

KSSK: Ketidakpastian Global Meningkat di Tengah Perang Dagang dan Arah Suku Bunga AS

Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sekaligus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. | Foto: Kemenkeu

Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sekaligus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan perekonomian global masih menghadapi tantangan besar di tengah meningkatnya ketidakpastian.

Dinamika ekonomi dunia pada kuartal IV/2025 dipengaruhi oleh ketegangan perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China serta kebijakan penurunan suku bunga bank sentral AS yang lebih agresif.

Perlambatan aktivitas ekonomi AS dan pelemahan pasar tenaga kerja mendorong Federal Reserve memangkas Fed Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin pada kuartal IV/2025 ke kisaran 3,50–3,75 persen. Kebijakan tersebut diambil sebagai respons terhadap tekanan ekonomi yang terus meningkat.

“Perlambatan aktivitas ekonomi AS dan pelemahan pasar tenaga kerja mendorong The Fed memangkas Fed Funds Rate sebesar 50 basis poin pada kuartal IV/2025 ke kisaran 3,50–3,75 persen,” kata Purbaya, dalam konferensi pers Hasil Rapat KSSK, Selasa, 27 Januari 2026.

|Baca juga: Naik 4,9%, BCA (BBCA) Bukukan Laba Rp57,5 Triliun di 2025

Ia menjelaskan pemangkasan lanjutan suku bunga diharapkan dapat menopang pemulihan ekonomi global dan meningkatkan aliran modal ke negara berkembang. Namun, pada 2026, pertumbuhan ekonomi dunia masih akan dipengaruhi dampak lanjutan kebijakan tarif impor AS serta tingginya kerentanan rantai pasok global.

Di tengah kondisi tersebut, prospek perekonomian AS dinilai mulai membaik seiring meningkatnya investasi di sektor teknologi, termasuk Artificial Intelligence (AI), serta stimulus fiskal berupa pengurangan pajak. Meski demikian, sejumlah negara utama diperkirakan menghadapi perlambatan ekonomi.

|Baca juga: Tantangan Makroekonomi Diramal Jadi Penghambat Industri Asuransi RI Tumbuh 40% di 2026

|Baca juga: Genjot Bisnis, BTN (BBTN) Siapkan Penguatan Modal hingga Dirikan Anak Usaha Asuransi di 2026

|Baca juga: Legislator Pertanyakan Efektivitas Kredit Program Perumahan BTN (BBTN) untuk Milenial

Pertumbuhan ekonomi Jepang, China, dan India pada 2026 diproyeksikan melambat akibat melemahnya permintaan domestik dan ekspor. Dari sisi pasar keuangan global, ruang penurunan FFR semakin terbatas di tengah masih tingginya yield US Treasury sejalan dengan defisit fiskal AS yang besar.

“Ketidakpastian pasar keuangan global juga meningkat terutama dipicu oleh ketegangan perang dagang serta meluasnya eskalasi tensi geopolitik,” ujar Purbaya.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook edisi Januari 2026 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen pada 2025 dan 2026, lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi Oktober 2025.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Naik 4,9%, BCA (BBCA) Bukukan Laba Rp57,5 Triliun di 2025

Member Login

or