Media Asuransi, JAKARTA – Pejabat Sementara Ketua Dewan (DK) Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyampaikan kontribusi sektor jasa keuangan dalam mendukung pembiayaan pembangunan nasional terus menunjukkan kinerja positif.
Kiki, biasa ia disapa, menyampaikan apresiasi terhadap berbagai program pemerintah yang dinilai menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Menurutnya, capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,11 persen pada 2025 mencerminkan efektivitas kebijakan dan koordinasi lintas sektor.
“Kami berterima kasih atas seluruh program-program prioritas pemerintah, Pak Menko beserah seluruh jajaran pemerintah yang hadir, di mana program-program pemerintah yang bergulir telah menjadi motor penggerak perekonomian dengan capaian perkembangan ekonomi yang impresif,” kata Friderica, Kamis, 5 Februari 2026.
Dari sisi pembiayaan pembangunan, lembaga jasa keuangan mencatat kontribusi mencapai Rp9.840 triliun. Porsi terbesar berasal dari kredit perbankan yang tumbuh 9,63 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp8.585,8 triliun. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat tumbuh 13,83 persen (yoy) mencapai Rp10.059,2 triliun.
|Baca juga: Batas Investasi Saham Naik Menjadi 20%, Pemegang Polis Asuransi Berpotensi Jadi ‘Korban’
|Baca juga: Batas Investasi Saham Asuransi Naik Jadi 20%, AAUI Dorong Penguatan Regulasi dan Mitigasi Risiko!
|Baca juga: Bos AAUI: Peningkatan Limit Investasi Saham di Pasar Modal Perlu Disikapi secara Prudent
“Dapat kami sampaikan kontribusi pembiayaan pembangunan oleh lembaga jasa kuangan mencapai Rp9.840 triliun utamanya kredit perbankan yang tumbuh 9,63 persen,” jelasnya, dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026.
Kinerja positif juga tercermin pada berbagai subsektor lain. Piutang perusahaan pembiayaan tumbuh 0,61 persen (yoy) menjadi Rp506,5 triliun. Kemudian penyaluran pergadaian meningkat signifikan sebesar 48,07 persen (yoy) menjadi Rp130,37 triliun.
Di sisi lain, modal ventura tumbuh 0,81 persen (yoy) menjadi Rp15,97 triliun, sementara LKM, PPI, dan lembaga keuangan khusus mencatat penyaluran sebesar Rp229,8 triliun. Di sisi lain, pinjaman daring menunjukkan pertumbuhan tinggi 25,44 persen (yoy) menjadi Rp96,6 triliun.
“Indikator likuiditas, profil risiko, dan solvabilitas industri jasa keuangan terpantau solid mengindikasikan kapasitas yang besar untuk melanjutkan pembiayaan pembangunan dari sektor keuangan,” urainya.
|Baca juga: Ashmore Asset Management Indonesia (AMOR) Siap Tebar Dividen, Cek Jadwalnya!
|Baca juga: Visa Komitmen Sediakan Pembayaran Digital yang Aman untuk Dukung Ekonomi Indonesia
|Baca juga: Mochamad Andy Arslan Djunaid Mundur dari Komisaris Utama JMA Syariah (JMAS), Mengapa?
OJK juga menilai kondisi industri jasa keuangan tetap solid, tercermin dari indikator likuiditas, profil risiko, dan solvabilitas yang terjaga baik. Sementara industri perbankan mencatat rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,89 persen.
Sektor asuransi menunjukkan tingkat solvabilitas tinggi dengan RBC asuransi umum 335,22 persen dan RBC asuransi jiwa 485,90 persen. Adapun perusahaan pembiayaan memiliki gearing ratio sebesar 2,18 kali.
“Sinergi yang kuat antara OJK dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Lembaga Penjamin Simpanan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan serta tentu saja seluruh pelaku industri jasa keuangan telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian tersebut,” pungkas Kiki.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
