Media Asuransi, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai Indonesia perlu melakukan reformasi kebijakan pariwisata guna memitigasi potensi kerugian akibat krisis global. Langkah ini dinilai penting agar sektor pariwisata nasional tetap kompetitif di tengah meningkatnya persaingan regional.
Menurut Airlangga, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara telah bergerak agresif untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor pariwisata di tengah ketidakpastian global. Thailand dan Vietnam, misalnya, meluncurkan kebijakan bebas visa dan kampanye destinasi aman.
“Sementara inisiatif One Visa Six Country di Thailand, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Laos, dan Myanmar mulai berjalan. (Pada) 2026 Indonesia tidak boleh tertinggal,” tutur Airlangga, dalam Tourism Under Fire bertajuk ‘Dampak Eskalasi Konflik Global Terhadap Pariwisata‘, Senin, 16 Maret 2026.
Ia menegaskan Indonesia perlu segera melakukan reformasi kebijakan guna memitigasi potensi kerugian akibat gejolak global sekaligus memperkuat fondasi sektor pariwisata nasional.
“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk mitigasi kerugian akibat krisis global dan membangun fondasi pariwisata dengan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing di kancah internasional,” jelasnya.
|Baca juga: AAUI Dorong Program Penjaminan Polis Segera Berjalan Demi Pulihkan Kepercayaan Publik
|Baca juga: Asuransi Jiwa Beralih ke SBN saat IHSG-Rupiah Lesu, Bos Ajaib: untuk Dapatkan Pendapatan Lebih
Salah satu langkah yang dinilai perlu dipercepat adalah perluasan kebijakan bebas visa kunjungan. Berdasarkan kajian World Travel and Tourism Council, kebijakan bebas visa yang diberikan Indonesia kepada 169 negara sejak 2015 terbukti mampu mendorong pertumbuhan kunjungan wisatawan hingga 15 persen.
Selain meningkatkan jumlah wisatawan, kebijakan tersebut juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. “Secara langsung mampu menciptakan 400 ribu tenaga kerja baru dan Kementerian Pariwisata mengidentifikasikan 20 negara potensial sebagai langkah cepat di situasi ini,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah menekankan pentingnya penguatan pasar wisata domestik sebagai penopang utama sektor pariwisata. Momentum libur Lebaran dinilai dapat dimanfaatkan sebagai jaring pengaman untuk menjaga pergerakan wisatawan di dalam negeri.
Airlangga menyebutkan konsep microtourism dapat menjadi strategi untuk mengoptimalkan potensi tersebut. Konsep ini mendorong pengembangan destinasi wisata dalam radius perjalanan yang lebih dekat namun tetap menawarkan pengalaman wisata yang mendalam.
“Pemerintah telah memberikan diskon stimulasi transportasi rata-rata untuk udara 18 persen, darat laut 30 persen, kereta api 30 persen, dan juga kebijakan Work From Anywhere (WFA) yang tentunya bisa menunjang pergerakan wisatawan dalam negeri berbagai daerah,” tutup Airlangga.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
