1
1

Perang Israel-AS vs Iran Ancam Momentum Kebangkitan Pariwisata Indonesia

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana. | Foto: Kementerian Pariwisata

Media Asuransi, JAKARTA – Momentum kebangkitan pariwisata Indonesia pascapandemi berpotensi terganggu akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah yang sedang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.

Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana mengatakan konflik internasional dapat memberikan tekanan terhadap sektor wisata karena industri ini sangat bergantung pada stabilitas global dan kelancaran mobilitas perjalanan antarnegara.

“Dalam konteks tersebut, perkembangan situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi sangat relevan bagi sektor pariwisata,” ujar Widiyanti dalam sebuah webinar, Senin, 16 Maret 2026.

“Bagi pariwisata Indonesia secara langsung, kawasan ini tidak hanya merupakan pasar wisatawan yang penting, tetapi juga sebagai hub penerbangan strategis yang menghubungkan wisatawan dari Eropa dan Amerika menuju Indonesia,” tambah Widiyanti.

Padahal sebelum ketegangan geopolitik meningkat, lanjutnya, sektor pariwisata Indonesia sedang mencatat kinerja yang cukup kuat. Widiyanti mengatakan sebelum situasi di Timur Tengah mulai memanas, pariwisata Indonesia sebenarnya berada pada momentum yang sangat baik.

|Baca juga: AAUI Usul Iuran Penjaminan Polis Dihitung dari Premi Neto

|Baca juga: AAUI Dorong Program Penjaminan Polis Segera Berjalan Demi Pulihkan Kepercayaan Publik

|Baca juga: Asuransi Jiwa Beralih ke SBN saat IHSG-Rupiah Lesu, Bos Ajaib: untuk Dapatkan Pendapatan Lebih

Pada 2025, sektor tersebut mencatat capaian positif dengan 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara atau tumbuh 10,8 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang menunjukkan Indonesia berada pada jalur pemulihan yang kuat setelah pandemi.

Widiyanti menjelaskan kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika memiliki kontribusi penting bagi sektor pariwisata nasional, baik dari sisi jumlah kunjungan maupun nilai belanja wisatawan.

Ia mengatakan kunjungan wisatawan dari kawasan tersebut menghasilkan devisa pariwisata sebesar 18,27 miliar dolar Amerika Serikat, namun capaian positif itu dinilai sangat rentan dan berpotensi terdampak oleh situasi di Timur Tengah saat ini.

“Kawasan gabungan Eropa, Timur Tengah, dan Amerika pada 2023 menyumbang lebih dari 3,3 juta kunjungan wisatawan mancanegara. Lebih dari itu, wisatawan dari kawasan tersebut dikenal sebagai high-spending travelers dengan durasi tinggal yang lebih panjang,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Pemerintah Siapkan Strategi Baru Buru Wisatawan Mancanegara di Tengah Tekanan Geopolitik
Next Post Melonjak 115%, Bank Jago (ARTO) Bukukan Laba Rp276 Miliar di 2025

Member Login

or