Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) terus memperkuat kebijakan moneter guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian. Penguatan kebijakan dilakukan melalui bauran penurunan suku bunga acuan, stabilisasi nilai tukar rupiah, serta ekspansi likuiditas moneter secara terukur dan berkelanjutan.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas makroekonomi. Sejak September 2024, BI telah memangkas suku bunga acuan atau BI-Rate secara signifikan hingga mencapai level terendah sejak 2022.
“Sejak September 2024, BI-Rate telah turun sebesar 150 basis poin, yaitu 25 basis poin pada September 2024 dan 125 basis poin selama 2025 menjadi 4,75 persen hingga Desember 2025,” ujar Perry, dalam konferensi pers Hasil RDG BI, Rabu, 21 Januari 2026.
|Baca juga: Rupiah Ambruk di Awal Tahun, BI Beberkan Akar Masalahnya!
|Baca juga: BI Optimistis Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 5,7% di Kuartal I/2026
|Baca juga: Perluas Ekosistem Pembayaran Digital, BI Bidik Transaksi QRIS Tembus 17 Miliar di 2026
Selain penurunan suku bunga, BI juga terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Langkah tersebut ditempuh melalui intervensi di pasar off-shore menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi di pasar spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Upaya stabilisasi nilai tukar ini menjadi bagian dari strategi BI dalam meredam volatilitas global dan menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian nasional, sejalan dengan penguatan bauran kebijakan moneter yang ditempuh sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Di sisi likuiditas, Bank Indonesia juga melakukan ekspansi rupiah dengan menurunkan posisi instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Posisi SRBI tercatat turun dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp730,90 triliun pada akhir 2025, dan kembali menurun menjadi Rp694,04 triliun per 20 Januari 2026.
|Baca juga: Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75% di Januari 2026
|Baca juga: Bos BI Pastikan Pergantian Deputi Gubernur Tidak Ganggu Independensi
Perry menegaskan ekspansi likuiditas tersebut dilakukan secara konsisten dan terukur untuk mendukung pembiayaan perekonomian tanpa mengganggu stabilitas. “Ekspansi likuiditas rupiah ditempuh Bank Indonesia melalui penurunan posisi instrumen moneter SRBI,” pungkas Perry.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
