1
1

Perkuat Diversifikasi Pangan Nasional, Sorgum Diusulkan Jadi Alternatif Strategis Pengganti Beras dan Jagung

Direktur Utama PT Berkah Inti Jaya Eri Prabowo (paling kanan), Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia Sugeng Harmono (dua dari kanan), dan Research Associate CORE Indonesia sekaligus Guru Besar IPB Dwi Andreas Santosa. | Foto: Media Asuransi/Sarah Dwi Cahyani

Media Asuransi, JAKARTA – Direktur Utama PT Berkah Inti Jaya Eri Prabowo mengusulkan komoditas sorgum sebagai alternatif strategis pengganti beras dan jagung dalam upaya memperkuat diversifikasi pangan nasional. Sorgum memiliki ketahanan tinggi terhadap kondisi lahan ekstrem serta potensi ekonomi yang menjanjikan, baik sektor pangan maupun energi.

Pada tahap awal pengembangannya, sorgum sempat diarahkan sebagai beras konsumsi. Namun, keterbatasan penerimaan masyarakat membuat perusahaan mengalihkan fokus sementara ke sektor biomassa energi sebagai langkah strategis yang lebih realistis.

“Kita ingin bangkit lagi, karena biomass off taker-nya jelas yaitu ke PLN, energi primer Indonesia. Sehingga pembelinya sudah pasti, dalam volume yang besar, dan dalam jangka waktu yang panjang,” kata Eri dalam CORE Outlook Sektoral bertajuk ‘Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi‘, Selasa, 20 Januari 2026.

“Sehingga, dikaitkan dengan judulnya ‘Dari Bencana Ke Strategi‘, kami mengusulkan dalam forum ini, karena dari tadi presentasi tulisannya beras jagung, beras jagung, yaitu sorgum,” tambah Eri.

|Baca juga: Dicecar BEI tentang Volatilitas Saham, Manajemen Saratoga Investama (SRTG) Buka Suara!

|Baca juga: Lagi, Prajogo Pangestu Borong 1 Juta Saham Barito Renewables Energy (BREN)

|Baca juga: BRI (BBRI) Siap Tebar Dividen Interim Rp137 per Saham, Cek Jadwal Lengkapnya di Sini!

Dari sisi ketahanan, sorgum dinilai memiliki keunggulan dibandingkan dengan beras dan jagung. Tanaman ini mampu tumbuh diberbagai jenis lahan, mulai dari tanah kering, tanah kapur, pasir, hingga gambut. Kondisi tersebut menjadikan sorgum sebagai komoditas diversifikasi pangan yang dinilai adaptif terhadap perubahan iklim.

Eri mencontohkan keberhasilan pengembangan sorgum di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Sumba Timur, yang terbukti mampu menopang ketahanan pangan daerah. Selain adaptif, sorgum juga memiliki siklus panen yang relatif singkat dibandingkan dengan tanaman pangan utama lainnya.

Untuk keperluan biomassa, tambahnya, sorgum dapat dipanen dalam waktu sekitar 70 hari tanpa menghasilkan bulir. Sementara untuk menghasilkan bulir pangan, waktu panen berkisar 100 hari. Saat ini, perseroan telah menanam sorgum di beberapa hektare lahan di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, guna memasok kebutuhan biomassa ke PLTU PLN setempat.

Dari sisi produktivitas, satu hektare lahan sorgum mampu menghasilkan hingga empat ton beras sorgum serta sekitar 30 ton batang kering untuk biomassa. Dengan nilai kalori sekitar 3.000 Gross As Received (GAR), biomassa sorgum dihargai PLN sekitar Rp500 ribu per ton, sehingga potensi pendapatan dapat mencapai Rp15 juta per hektare per panen.

Sementara itu, biaya produksi sorgum dinilai lebih efisien dibandingkan dengan beras. Eri memperkirakan biaya produksi beras mencapai sekitar Rp18 juta per hektare, sedangkan sorgum hanya membutuhkan biaya sekitar setengahnya atau bahkan lebih rendah.

“Sehingga, sorgum ini menjadi pengubah permainan baik dalam dunia pangan maupun dalam dunia energi, khususnya biomass,” pungkas Eri.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Antisipasi El Nino, CORE Indonesia Usulkan Langkah Strategis Perkuat Tata Kelola Pangan di 2026
Next Post Pemerintah Pastikan Harga Pangan Terjaga di Ramadan 2026, Begini Siasatnya!

Member Login

or