Media Asuransi, JAKARTA – Permata Bank melalui Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,1–5,2 persen pada 2026. Meski demikian, sejumlah risiko tetap harus diwaspadai dan diantisipasi sebaik mungkin.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan potensi peningkatan menuju 5,2–5,3 persen terbuka apabila tekanan eksternal mereda dan reformasi struktural semakin memperkuat keyakinan pelaku usaha serta konsumen.
Dalam proyeksi tersebut, konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, dan investasi diperkirakan tetap menjadi penopang utama, sementara volatilitas pasar keuangan global, serta dinamika perdagangan dunia menjadi faktor yang perlu dicermati.
“Prospek pertumbuhan tetap baik, namun dinamika perdagangan global, konflik geopolitik, dan perlambatan ekonomi China perlu terus dicermati,” kata Josua, dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, Jumat, 20 Februari 2026.
|Baca juga: Rupiah Belum Aman, Ekonom Permata Bank Sebut Tekanan Global dan Domestik Masih Menghantui
Josua menilai kebijakan domestik harus dikelola secara hati-hati agar dukungan terhadap pertumbuhan tetap sejalan dengan stabilitas makroekonomi, termasuk menjaga stabilitas nilai tukar dan biaya pendanaan di pasar keuangan.
PIER menilai ruang pelonggaran kebijakan moneter masih terbuka secara terbatas pada 2026, seiring inflasi inti yang relatif terjaga dan prospek penurunan suku bunga global yang lebih gradual. Namun, tekanan harga pangan yang bersifat musiman serta risiko dari pelemahan nilai tukar perlu diantisipasi agar inflasi tetap terkendali.
|Baca juga: Efek MSCI dan Moody’s Dinilai Bersifat Jangka Pendek terhadap Pasar Keuangan RI
|Baca juga: Permata Bank Nilai Suku Bunga Kredit Perbankan Berpeluang Turun Bertahap
Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengelola volatilitas pasar, dan mempertahankan persepsi risiko yang sehat bagi pasar keuangan domestik, sekaligus memastikan transmisi kebijakan ke pembiayaan sektor produktif berjalan efektif.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
