Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sekaligus Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat dan mampu menjaga momentum pertumbuhan ke depan.
Kinerja ekonomi nasional pada kuartal IV/2025 diperkirakan lebih tinggi, ditopang oleh kenaikan permintaan domestik seiring membaiknya keyakinan pelaku ekonomi yang didukung stimulus kebijakan fiskal dan moneter.
Pada kuartal IV/2025, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tren positif. Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur berada di zona ekspansi berdasarkan survei S&P Global, penjualan ritel tumbuh positif, dan neraca perdagangan tetap mencatatkan surplus. Kondisi tersebut mencerminkan daya tahan ekonomi domestik di tengah dinamika global.
“Pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 diperkirakan lebih tinggi ditopang oleh kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi yang didukung oleh stimulus dari kebijakan fiskal dan moneter,” ujar Purbaya, dalam konferensi pers Hasil Rapat KSSK, Selasa, 27 Januari 2026.
|Baca juga: Taspen Salurkan Manfaat JKK Korban Kecelakaan Pesawat ATR 42-500
|Baca juga: Naik 4,9%, BCA (BBCA) Bukukan Laba Rp57,5 Triliun di 2025
|Baca juga: KSSK: Ketidakpastian Global Meningkat di Tengah Perang Dagang dan Arah Suku Bunga AS
Dari sisi likuiditas, penempatan kas negara di perbankan turut memperkuat kondisi perbankan nasional. Hal ini tercermin dari pertumbuhan M0 atau uang primer sebesar 11,4 persen secara tahunan pada Desember 2025, yang sekaligus menekan biaya dana perbankan.
Pertumbuhan M0 tersebut dipengaruhi oleh koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, sejalan dengan ekspansi likuiditas bank sentral serta stimulus fiskal pemerintah di akhir tahun.
Sementara itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Desember 2025 tercatat tumbuh 9,6 persen secara tahunan. Pertumbuhan M2 antara lain didorong oleh perkembangan penyaluran kredit yang terus berjalan seiring meningkatnya aktivitas ekonomi domestik.
“Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi keseluruhan 2025 diperkirakan berada di sekitar 5,2 persen,” kata Purbaya.
Memasuki 2026, pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi meningkat menjadi sekitar 5,4 persen. Peningkatan tersebut ditopang oleh kenaikan permintaan domestik yang diperkuat berbagai sinergi kebijakan antara pemerintah dan lembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Ke depan, penguatan investasi terus dilakukan, antara lain melalui peran Danantara sebagai pengungkit investasi swasta, termasuk di sektor hilirisasi sumber daya alam. Selain itu, pemerintah juga mendorong penciptaan iklim investasi yang lebih kompetitif melalui pembentukan Satuan Tugas Percepatan Program Strategis Pemerintah (Satgas P2SP).
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
