1
1

Purbaya Tegaskan Ekonomi RI Tetap Kuat, Berikut Faktor Penyebabnya!

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. | Foto: Kemenkeu

Media Asuransi, JAKARTA – Menteri Keuangan Republik Indonesia (Menkeu RI) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan fundamental ekonomi nasional tetap kuat dan resilien di tengah ketidakpastian global. Hal itu lantaran 90 persen pertumbuhan Indonesia ditopang oleh permintaan domestik sebagai motor utama.

Menurut Menkeu, faktor global bukanlah penentu utama kinerja ekonomi Indonesia. Sementara kontribusi global hanya berkisar 10–20 persen dibandingkan dengan kontribusi permintaan domestik. Oleh karena itu, perlambatan ekonomi global tidak seharusnya dijadikan alasan atas lemahnya kinerja ekonomi dalam negeri.

“Kalau kita 90 persen domestic demand, 10 persen global atau lebih. Mungkin maksimal 15-20 persen. Kalau kita juga ada domestic demand, harusnya tidak ada masalah,” ungkap Purbaya, dikutip dari keterangan resminya, Kamis, 29 Januari 2026.

Kondisi domestik Indonesia, lanjutnya, dinilai solid dengan inflasi rendah di kisaran 2,9 persen, serta inflasi inti sekitar 2,3 persen. Bahkan, jika komponen harga emas dikeluarkan, inflasi diperkirakan hanya sekitar 1,5 persen. Hal tersebut menunjukkan tekanan permintaan masih terkendali dan belum memicu overheating ekonomi.

|Baca juga: Oona Insurance (ABDA) Umumkan Pergantian Sekretaris Perusahaan Baru, Siapa Dia?

|Baca juga: Berikut 4 Saham yang Direkomendasikan Hari Ini saat IHSG Masih Rawan Longsor

“Jadi sebetulnya permintaannya masih relatif rendah. Belum ada demand core inflation, artinya saya bisa mendorong ekonomi ke tingkat yang lebih cepat lagi tanpa khawatir adanya kenaikan bunga yang terlalu signifikan dari bank sentral atau karena inflasi naik dan bank sentral ingin memperlambat lagi,” urai Purbaya.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional juga menunjukkan tren positif, dengan realisasi di kisaran 5,0–5,4 persen pada beberapa triwulan terakhir. Menkeu melihat masih terdapat ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi tanpa memicu kenaikan suku bunga.

Untuk mendorong perekonomian, pemerintah juga mengandalkan strategi debottlenecking untuk memperbaiki iklim investasi. Melalui forum rutin lintas kementerian, berbagai hambatan usaha yang dihadapi pelaku bisnis diklaim akan diselesaikan secara cepat dan terukur.

|Baca juga: LPS Terapkan Kebijakan Relaksasi Pembayaran Premi untuk Bank Terdampak Bencana Sumatra

|Baca juga: OJK Siapkan Banyak Amunisi untuk Jaga Stabilitas Sistem Keuangan

|Baca juga: Bos BI: Cadangan Devisa Menguat dan Rupiah Tetap Terkendali di Tengah Tekanan Global

Dengan perbaikan kinerja fiskal, optimalisasi penerimaan pajak dan bea cukai, serta pengendalian defisit anggaran, pemerintah optimistis perekonomian Indonesia akan terus tumbuh secara berkelanjutan.

“Saya optimistis untuk ekonomi dan pasar saham tahun ini. Anda semua jangan tunggu-tunggu lagi untuk berinvestasi atau melebarkan ekspansi bisnis Anda,” pungkas Menkeu.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Berikut 4 Saham yang Direkomendasikan Hari Ini saat IHSG Masih Rawan Longsor
Next Post DPR Minta Publik dan Pelaku Pasar Bersikap Proporsional Respons Pergantian Deputi Gubernur BI

Member Login

or