Media Asuransi, JAKARTA – Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai membayangi sektor pariwisata Indonesia. Pemerintah memperkirakan situasi tersebut berpotensi menggerus ribuan kunjungan wisatawan mancanegara setiap hari dan menekan potensi devisa pariwisata nasional.
Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana mengatakan dinamika global saat ini perlu menjadi perhatian serius bagi industri pariwisata, terutama karena sektor ini sangat sensitif terhadap kondisi geopolitik internasional.
“Tema webinar ini, yaitu Tourism Under Fire, menyoroti kerentanan sektor wisata akibat eskalasi konflik perang internasional, sangat relevan dalam membaca dinamika global yang saat ini memengaruhi berbagai sektor ekonomi dunia, termasuk pariwisata,” ujar Widiyanti, dalam sebuah webinar, Senin, 16 Maret 2026.
Menurutnya, konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada aspek politik dan keamanan, tetapi juga pada kelancaran mobilitas manusia lintas negara yang menjadi fondasi utama industri pariwisata.
|Baca juga: Allianz Syariah Ungkap Alasan Spin-Off: Potensi Pasar Asuransi Syariah Masih Sangat Besar
|Baca juga: Bos Sun Life: Eksekusi dari Pemimpin Asuransi Lebih Penting daripada Strategi
|Baca juga: KB Bank (BBKP) Kucurkan PNM Rp500 Miliar untuk Perluas Akses Modal Jutaan Pelaku Usaha Mikro
“Namun demikian, pada hakikatnya, pariwisata sangat bergantung pada kelancaran pergerakan manusia lintas negara. Ketika mobilitas antarnegara terganggu, baik karena faktor logistik, ekonomi, maupun geopolitik, maka sektor pariwisata juga akan terdampak,” jelasnya.
Kementerian Pariwisata mengestimasi situasi geopolitik tersebut berpotensi menurunkan kunjungan wisatawan mancanegara sekitar 4.700 hingga 5.500 orang per hari. Jika dihitung secara ekonomi, dampaknya dapat mencapai ratusan miliar rupiah dalam bentuk devisa pariwisata.
“Kementerian Pariwisata mengestimasikan situasi di Timur Tengah ini berpotensi berdampak langsung 4.700 hingga 5.500 kunjungan wisatawan mancanegara per hari, dengan nilai ekonomi sekitar Rp157,9 miliar hingga Rp184,8 miliar per hari dalam bentuk devisa pariwisata,” tutur Widiyanti.
Widiyanti menambahkan dampak tersebut tidak hanya dirasakan pada tingkat nasional, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai sektor turunan seperti industri akomodasi, restoran, transportasi wisata, hingga pelaku UMKM di berbagai destinasi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
