1
1

Rupiah Belum Aman, Ekonom Permata Bank Sebut Tekanan Global dan Domestik Masih Menghantui

Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman mengatakan nilai tukar rupiah saat ini masih berpotensi berada dalam tekanan. Tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.

Dalam beberapa hari terakhir, lanjutnya, depresiasi rupiah bahkan tercatat lebih dalam dibandingkan dengan sejumlah negara lain di kawasan Asia Pasifik. “Trennya kalau kita lihat itu memang rupiah akan terus ada dalam tekanan ya,” ujar Faisal dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, Jumat, 20 Februari 2026.

|Baca juga: Efek MSCI dan Moody’s Dinilai Bersifat Jangka Pendek terhadap Pasar Keuangan RI

“Karena kan memang berbeda dengan beberapa negara di Asia, kita memang beberapa kali hit di beberapa hari ke belakang, itu kita yang depresiasinya paling dalam (dibandingkan dengan) negara-negara Asia Pasifik lainnya,” tambah Faisal.

Faisal menjelaskan pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh dinamika global, seperti arah suku bunga dan sentimen pasar internasional, tetapi juga kondisi dalam negeri. Karena itu, peluang penguatan rupiah sangat bergantung pada perbaikan di kedua sisi tersebut.

“Pergerakan rupiah dipengaruhi bukan hanya oleh faktor global, tetapi juga faktor domestik. Sehingga memang kalau saya lihat kalau globalnya terus membaik itu memang ada peluang untuk perbaikan dari sisi rupiah,” katanya.

|Baca juga: Permata Bank Nilai Suku Bunga Kredit Perbankan Berpeluang Turun Bertahap

Meski demikian, ia menegaskan, penguatan rupiah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada BI. Bank sentral saat ini memang berfokus menjaga stabilitas melalui kebijakan suku bunga acuan serta intervensi di pasar valas, baik di pasar spot maupun Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

“Untuk mempercepat penguatan rupiah, itu tidak serta-merta menjadi tugas BI saja. Memang saat ini stance BI adalah menjaga stabilitas, baik melalui BI rate maupun intervensi di pasar spot dan DNDF,” jelasnya.

Ia menambahkan peran pemerintah juga penting dalam memperbaiki persepsi investor. Stabilitas politik, komunikasi kebijakan yang konsisten, serta penyelesaian isu terkait dan perubahan outlook Indonesia menjadi faktor krusial dalam menurunkan premi risiko aset domestik.

|Baca juga: Ekonom Permata Bank Beberkan 4 Risiko Global yang Berdampak ke Ekonomi RI

“Jika kondisi politik dan komunikasi kebijakan membaik, serta isu terkait MSCI dan outlook Moody’s yang sebelumnya negatif bisa diperbaiki kembali menjadi positif, itu menjadi peluang. Karena sentimen risk-off yang mendorong kenaikan risk premium aset Indonesia bukan hanya berasal dari faktor global, tetapi juga domestik,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Efek MSCI dan Moody’s Dinilai Bersifat Jangka Pendek terhadap Pasar Keuangan RI
Next Post Hujan Semalaman Jakarta di Kepung Banjir

Member Login

or