Media Asuransi, JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang dinilai berada di bawah level fundamental atau undervalued disebut lebih banyak dipengaruhi sentimen global ketimbang kondisi ekonomi domestik.
Meski memberi keuntungan bagi eksportir, namun pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menekan daya beli masyarakat jika berlangsung lama.
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede, dalam Media Briefing PIER Economic Review 2025, mengatakan secara fundamental kondisi ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Ia merujuk pada sejumlah indikator seperti defisit transaksi berjalan, cadangan devisa, inflasi yang terkendali, serta prospek pertumbuhan ekonomi.
“Kalau kita melihat fundamental ekonomi kita dari current account, cadangan devisa, inflasi yang terkendali, lalu prospek pertumbuhan ekonomi, sebenarnya pergerakan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor sentimen. Jadi peluang untuk menguat kembali tetap terbuka,” ujar Josua, Jumat, 20 Februari 2026.
Ia menjelaskan dalam jangka pendek pelemahan rupiah memiliki dua sisi bagi pelaku usaha. Dari sisi eksportir, penguatan dolar Amerika Serikat dapat meningkatkan arus kas dan memperkuat kemampuan bayar korporasi. Namun di sisi lain, importir menghadapi kenaikan biaya bahan baku akibat imported inflation.
|Baca juga: Efek MSCI dan Moody’s Dinilai Bersifat Jangka Pendek terhadap Pasar Keuangan RI
|Baca juga: Rupiah Belum Aman, Ekonom Permata Bank Sebut Tekanan Global dan Domestik Masih Menghantui
|Baca juga: Premi Industri Asuransi Umum Tembus Rp112,81 Triliun di Kuartal IV/2025
Kenaikan harga barang impor, terutama bahan baku industri manufaktur yang masih banyak bergantung pada impor, berisiko mendorong biaya produksi. Jika terus berlanjut, kondisi tersebut dapat diteruskan ke harga jual barang, khususnya pada produk elektronik, farmasi, serta jasa yang memiliki komponen impor.
“Dampaknya, daya beli masyarakat bisa terpengaruh,” tuturnya.
Meski demikian, Josua menilai, masyarakat umum yang tidak memiliki paparan langsung terhadap risiko nilai tukar tidak perlu panik. Ia menekankan kondisi saat ini berbeda jauh dibandingkan dengan krisis moneter 1997–1998, baik dari sisi fundamental ekonomi maupun stabilitas sistem keuangan.
Dirinya menyarankan pelaku usaha untuk melakukan mitigasi risiko nilai tukar melalui instrumen lindung nilai atau hedging yang tersedia di perbankan. Menurutnya, selama risiko kredit dan likuiditas tetap terjaga, dampak gejolak nilai tukar masih dapat dikelola.
|Baca juga: Sah! Ini Susunan Dewan Pengawas dan Direksi Baru BPJS Kesehatan 2026-2031
|Baca juga: Ekonom Permata Bank Beberkan 4 Risiko Global yang Berdampak ke Ekonomi RI
|Baca juga: Permata Bank Nilai Suku Bunga Kredit Perbankan Berpeluang Turun Bertahap
Terkait peluang rupiah kembali ke nilai fundamentalnya, Josua menilai, hal tersebut sangat mungkin terjadi apabila tekanan sentimen global mereda, termasuk persepsi pasar terhadap Indonesia. Ketika faktor eksternal stabil, nilai tukar dinilai akan kembali bergerak menuju keseimbangan fundamentalnya.
“Kalau faktor sentimen global mulai mereda, tentu keseimbangan nilai tukar akan kembali ke level fundamentalnya. Kalau sekarang dinilai undervalued, artinya ke depan ada ruang untuk kembali ke level tersebut,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
