Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menilai nilai tukar rupiah saat ini masih berada di bawah level fundamentalnya atau undervalue, meski indikator makroekonomi domestik menunjukkan kondisi yang relatif solid.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh dua kelompok faktor utama yakni fundamental domestik dan faktor teknikal global. Dari sisi fundamental, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang mendukung stabilitas rupiah.
|Baca juga: Tok! BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di Level 4,75% pada Februari 2026
|Baca juga: Ramalan BI: Imlek hingga Lebaran Bikin Ekonomi RI di Kuartal I/2026 Tetap Tinggi
Inflasi yang rendah dan terkendali, pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga, serta imbal hasil (yield) instrumen keuangan domestik yang kompetitif dinilai menjadi dasar bahwa nilai tukar semestinya bergerak lebih stabil dan cenderung menguat.
“Indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil, maupun indikator-indikator lain menunjukkan berbagai faktor fundamental itu menunjukkan rupiah mestinya akan lebih stabil dan cenderung menguat,” ujar Perry, dalam konferensi pers Hasil RDG BI, Kamis, 19 Februari 2026.
|Baca juga: BI Ramal Inflasi Ramadan dan Idulfitri 2026 Tetap Terkendali
Namun demikian, tekanan terhadap rupiah dalam beberapa waktu terakhir lebih banyak berasal dari faktor eksternal, khususnya peningkatan premi risiko global dan ketidakpastian pasar keuangan internasional.
Menurut Perry, faktor teknikal dan sentimen global tersebut memicu tekanan jangka pendek yang tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental domestik. “Faktor-faktor teknikal, faktor-faktor premi risiko yang khususnya terjadi di global, memang menimbulkan tekanan-tekanan jangka pendek terhadap nilai tukar,” katanya.
BI menilai kondisi undervalue lebih disebabkan pergeseran persepsi risiko investor global, termasuk dinamika suku bunga global dan volatilitas pasar keuangan internasional. Di situasi ini, arus modal global cenderung lebih sensitif terhadap sentimen risiko, sehingga memicu tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, BI menegaskan keyakinannya bahwa dalam jangka menengah, nilai tukar rupiah akan kembali bergerak menuju level yang sesuai dengan fundamental ekonomi domestik. “Dengan keyakinan ke depan nilai tukarnya akan stabil dan cenderung menguat mengarah kepada fundamental,” pungkas Perry.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
