1
🇮🇩 Indonesia
🇬🇧 English
🇨🇳 中文 (简体)
🇯🇵 日本語
🇰🇷 한국어
🇸🇦 العربية
🇲🇾 Melayu
🇹🇭 ภาษาไทย
🇻🇳 Tiếng Việt
1

Rupiah Tergerus ke Rp17.105/US$, BI Genjot Seluruh Instrumen Operasi Moneter Jaga Stabilitas

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. | Foto: Bank Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti buka suara terkait perkembangan nilai tukar rupiah yang sampai saat ini masih bertengger di level Rp17 ribuan per dolar Amerika Serikat (AS).

Ia mengatakan di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia. Untuk itu, BI akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen Operasi Moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

“⁠BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF, maupun NDF di offshore market,” kata Destry, dalam pernyataan resminya, di Jakarta, Selasa, 7 April 2026.

|Baca juga: Mirae Asset Soroti Tekanan Eksternal saat IHSG Melemah dan Rupiah di Atas Rp17.000

|Baca juga: Survei Sun Life: Lebih dari Setengah Perempuan Indonesia Pilih Prioritaskan Keluarga

Ia menambahkan dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah, di mana kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara ekspotir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian Indonesia.

“Sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” katanya.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup di level Rp17.105 per US$ pada akhir perdagangan Kamis, 7 April 2026, melemah 0,41 persen atau setara 70 poin. Pagi tadi, nilai tukar rupiah dibuka di level Rp17.048 per US$. Hari ini nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp17.046 per US$ hingga Rp17.119 per US$.

Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai ruang ketahanan ekonomi domestik terhadap guncangan eksternal semakin terbatas. Kondisi itu seiring pelemahan rupiah yang bertahan di atas level Rp17.000 dan meningkatnya tekanan fiskal di tengah sentimen global yang masih bergejolak.

|Baca juga: OJK Dorong Pendalaman Pasar Modal Lewat Penguatan Suplai, Demand, dan Infrastruktur

|Baca juga: Legislator Sebut IFG Life Diawasi Ketat Demi Jaga Keberlanjutan Industri Asuransi RI

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menjelaskan pergerakan rupiah di atas level tersebut, di tengah indeks dolar yang relatif stabil, mengindikasikan Bank Indonesia mulai memberi ruang penyesuaian yang lebih besar setelah periode intervensi yang cukup agresif.

Dalam dua bulan pertama 2026, cadangan devisa tercatat turun sekitar US$4,6 miliar dibandingkan dengan akhir 2025, seiring pembayaran utang valas dan kebijakan stabilisasi nilai tukar. Di pasar saham, IHSG sempat terkoreksi dan ditutup di bawah level 7.000, mencerminkan sentimen risk-off yang masih dominan.

“Pelemahan IHSG yang sempat turun di bawah level 7.000, bersamaan dengan rupiah yang bertahan di atas Rp17.000, mencerminkan meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik. Dalam kondisi ini, ruang stabilisasi menjadi semakin terbatas, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi,” ujar Rully.

“Dengan IHSG yang telah terkoreksi hingga 6.917 dan rupiah di atas Rp17.000, kami melihat tekanan pasar masih berpotensi berlanjut, terutama jika arus keluar dana asing meningkat ke kisaran Rp500 miliar hingga Rp1 triliun per hari dalam jangka pendek,” tambahnya.

|Baca juga: OJK Catat 6 BPR Dicabut Izinnya hingga Kuartal I/2026. Ini Daftar Perusahaannya!

|Baca juga: OJK Awasi Khusus 14 Perusahaan Asuransi dan Dana Pensiun, Ini Alasannya!

Ke depan, tekanan diperkirakan masih berlanjut seiring eskalasi geopolitik dan kenaikan harga minyak, yang umumnya memberi tekanan pada mata uang negara net importir seperti Indonesia.

Di sisi fiskal, kebijakan pemerintah menahan harga BBM untuk menjaga daya beli turut mendorong defisit APBN hingga Maret 2026 mencapai Rp240,1 triliun atau 0,9 persen PDB, meningkat dari 0,4 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

“Upaya menjaga stabilitas tetap penting, namun konsekuensinya adalah meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan cadangan devisa,” pungkas Rully.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Survei Sun Life: Lebih dari Setengah Perempuan Indonesia Pilih Prioritaskan Keluarga
Next Post Cinema XXI Bagikan Dividen Rp980 Miliar

Member Login

or