1
1

Suku Bunga INDONIA Terus Merosot Sejak Awal Diresmikan, Ini Penjelasan BI!

Gedung Bank Indonesia (BI). | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, JAKARTA – Suku bunga Indonesia Overnight Index Average (INDONIA) terus turun sejak resmi mulai berlaku pada 2 Januari 2026. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan INDONIA di level 4,00 persen pada 2 Januari 2026, kemudian turun menjadi 3,90 persen pada 5 Januari 2026, dan kembali melemah ke posisi 3,84 persen pada 6 Januari 2026.

Penurunan tersebut menimbulkan pertanyaan terkait arah pergerakan suku bunga antarbank serta kondisi likuiditas di Pasar Uang Antarbank (PUAB). Namun, BI menegaskan, pergerakan INDONIA tidak dapat dimaknai sebagai sinyal arah kebijakan suku bunga ke depan, melainkan mencerminkan kondisi pasar uang pada saat tertentu saja.

Kepala Grup Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) BI Arief Rachman menjelaskan INDONIA merupakan harga yang terbentuk dari transaksi aktual di pasar, sehingga pergerakannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pasar.

“INDONIA itu tidak mencerminkan apakah kemudian nanti suku bunganya turun atau naik. Itu semata-mata (rata-rata) harga yang ada di pasar. Berarti lebih dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya, likuiditas di pasar yang ample. Kalau banyak, kan harganya turun,” ujar Arief, dalam Taklimat Media di Jakarta, Rabu, 7 Januari 2026.

Selain faktor likuiditas, ekspektasi pelaku pasar juga berperan dalam membentuk pergerakan INDONIA. Jika pasar memperkirakan suku bunga ke depan berpotensi turun, transaksi antarbank dapat terjadi pada level bunga yang lebih rendah. Meski demikian, Arief menegaskan, kondisi tersebut tidak berkaitan langsung dengan arah kebijakan BI.

|Baca juga: OJK Klaim Permintaan Produk Asuransi Jiwa Terjaga di Tengah Dinamika Industri

|Baca juga: Industri Asuransi RI Diramal Tetap Jadikan SBN sebagai Primadona, Begini Alasannya!

|Baca juga: Pengamat Ungkap Alasan Industri Asuransi Belum Mau Pindah ke Lain Hati dari SBN

“INDONIA yang turun itu tidak mencerminkan kemudian ke depan akan turun lagi. Itu hanya mencerminkan kondisi pasar saat itu seperti apa. Jadi tidak mencerminkan kebijakan BI ke depan,” jelasnya.

Di tengah dinamika tersebut, BI menilai pelaku pasar dan regulator telah berada pada jalur yang tepat dalam mengadopsi INDONIA sebagai acuan suku bunga rupiah. Bersama National Working Group on Benchmark Reform (NWGBR), BI terus melakukan berbagai inisiatif untuk meningkatkan kesiapan dan awareness pasar.

BI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara aktif memonitor dan mengimbau pelaku pasar agar seluruh eksposur kontrak keuangan dapat beralih dari JIBOR. Di sisi lain, Kementerian Keuangan secara bertahap menggantikan JIBOR dengan INDONIA sebagai suku bunga acuan dalam Pinjaman Dalam Negeri (PDN).

Kesiapan tersebut tercermin dari penurunan outstanding eksposur JIBOR sepanjang 2025. Pada kuartal I/2025, outstanding eksposur JIBOR tercatat sebesar Rp 548,72 triliun, turun menjadi Rp 539,65 triliun pada kuartal II/2025, dan kembali menyusut menjadi Rp 480,19 triliun pada kuartal III/2025.

Penurunan eksposur tersebut mengindikasikan pelaku pasar telah mulai menyesuaikan portofolio dan kontrak keuangannya sebagai bagian dari proses transisi menuju implementasi penuh INDONIA pada 2026.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Sejumlah BUMN Berpotensi Delisting Saham, Pembenahan Menyeluruh Wajib Dilakukan!
Next Post Produksi Beras Naik 2,83% di November 2025

Member Login

or