Media Asuransi, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja sektor jasa keuangan syariah nasional tetap menunjukkan pertumbuhan hingga akhir 2025. Hal itu terjadi meski di tengah tekanan dinamika geopolitik dan geoekonomi global.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan total aset industri keuangan syariah tercatat mencapai Rp3.100 triliun atau tumbuh 8,61 persen secara tahunan. Menurut Friderica, capaian tersebut mencerminkan ketahanan sektor keuangan syariah yang tetap stabil dalam menghadapi ketidakpastian global.
|Baca juga: Bos Mega Insurance Minta Iuran LPP Adil dan Tidak Memberatkan Industri Asuransi
|Baca juga: Maybank Indonesia (BNII) Catat Pembiayaan Berkelanjutan Terus Bertumbuh di 2025
“Kemudian di tingkat nasional, kinerja sektor jasa keuangan syariah juga mengalami pertumbuhan yang stabil, bahkan di tengah isu dinamika geopolitik dan geoekonomi global,” ujarnya, dalam acara Penutupan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah 2026, di Jakarta, Kamis, 2 April 2026.
Secara rinci, aset tersebut terdiri dari perbankan syariah sebesar Rp1.067 triliun, pasar modal syariah Rp1.800 triliun, dan industri keuangan non-bank syariah Rp188 triliun. Selain itu, intermediasi perbankan syariah juga mencatatkan pertumbuhan positif.
|Baca juga: OJK Awasi Ketat Keuangan Digital dan Percepat Pengembangan Industri Syariah
|Baca juga: Perlindungan Konsumen Diperkuat, OJK Gencarkan Literasi hingga Berantas Keuangan Ilegal
Friderica menjelaskan pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,58 persen menjadi Rp705 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 10,14 persen. Di sisi lain, kapitalisasi pasar syariah mencapai Rp8.900 triliun atau naik 31,4 persen secara tahunan.
“Hal tersebut tentunya juga didukung oleh stabilitas sektor jasa keuangan syariah yang tangguh, resiliensi yang tercermin dari beberapa hal,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
