1
1

AFPI Analisis Mendalam Dampak Konflik AS-Israel dan Iran yang Kian Memanas

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar. | Foto: LinkedIn Entjik S. Djafar

Media Asuransi, JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S. Djafar menilai eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya memanasnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran perlu dicermati oleh seluruh pelaku industri jasa keuangan, termasuk pinjaman daring (pindar).

Sebelumnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta seluruh Lembaga Jasa Keuangan (LJK) untuk meningkatkan kewaspadaan dan mencermati dinamika pasar seiring meningkatnya risiko global yang berpotensi memicu tekanan inflasi.

|Baca juga: Nasabah Bank Jago Syariah Tembus 2,4 Juta per Desember 2025, Tumbuh 16,5%!

|Baca juga: AFPI Berharap ‘Kecipratan’ Dana SAL Rp200 Triliun dari Bank Himbara

Menanggapi hal tersebut, Entjik mengatakan, pihaknya masih melakukan analisis mendalam terkait dampak langsung terhadap industri fintech peer to peer lending.

“Kita masih melihat, kita masih menganalisa apakah dampak itu secara langsung ada, atau tidak terlalu signifikan. Dampak pasti ada, tapi mungkin tidak terlalu signifikan,” ujar Entjik, kepada Media Asuransi, di Jakarta, dikutip Kamis, 5 Maret 2026.

Menurutnya, transmisi dampak konflik geopolitik terhadap industri pindar sangat bergantung pada kondisi perekonomian domestik. Jika eskalasi perang memicu lonjakan harga energi global dan inflasi meningkat maka daya beli masyarakat bisa tertekan dan berimbas pada kemampuan bayar peminjam.

|Baca juga: BI Siap Intervensi Pasar Jaga Stabilitas Rupiah saat Perang AS-Israel dan Iran Berkecamuk

|Baca juga: Bos DAI: Reformasi di Pasar Modal dan Investasi Penting Buat Kami

|Baca juga: OJK Perdalam 32 Pelanggaran Pasar Modal, Peran Influencer Ikut Disorot!

Namun, ia menekankan, fundamental industri pembiayaan digital tetap sangat ditentukan oleh kekuatan ekonomi nasional. “Karena kita selalu bergantung dari dampaknya keadaan ekonomi secara nasional atau dalam negeri,” katanya.

Entjik menambahkan selama pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga dan stabilitas makroekonomi dapat dipertahankan, dampak terhadap kualitas pembiayaan di industri pindar dinilai masih dapat dikelola.

“Kalau sepanjang ekonomi kita bagus, industri ini (pindar) juga pasti bagus,” tutup Entjik.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Industri Pindar Disebut Solusi Strategis Pembiayaan UMKM, Begini Penjelasannya!
Next Post Inilah Jadwal Pembatasan Operasional Angkutan Barang Selama Periode Libur Lebaran 2026

Member Login

or