Media Asuransi, JAKARTA – Masyarakat Indonesia akan kembali menyambut Ramadan mulai pertengahan Maret 2026. Selain menjadi momen spiritual, Ramadan telah berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi terbesar di Tanah Air, didorong oleh meningkatnya aktivitas konsumsi rumah tangga, mulai dari kebutuhan harian hingga persiapan Idulfitri.
Skala aktivitas ini menjadikan Ramadan periode krusial yang perlu dimanfaatkan secara strategis oleh brand. Namun, di tengah dinamika ekonomi belakangan, masyarakat cenderung lebih terencana dalam mengelola anggaran sejak awal 2026 guna mempersiapkan kebutuhan Ramadan tahun ini.
Hasil riset InMobi menunjukkan 74 persen konsumen meningkatkan alokasi dana belanja di Ramadan dibandingkan dengan tahun lalu. Kondisi ini menunjukkan konsumen telah secara aktif memaksimalkan aktivitas belanja pada periode tersebut. Dalam ranah belanja daring, tren pertumbuhan juga terlihat selama selama fase belanja Ramadan.
Chief Operating Officer SIRCLO Danang Cahyono menyampaikan data internal SIRCLO mencatat peningkatan jumlah transaksi hingga 115 persen selama periode dua minggu sebelum Ramadan hingga dua minggu setelah Idulfitri 2025, dibandingkan dengan satu bulan sebelumnya.
|Baca juga: Budi Herawan Sampaikan Apresiasi kepada Anggota dan Mitra pada HUT ke-24 AAUI
|Baca juga: Budi Herawan Diangkat Chairman ASEAN Insurance Council 2026, Berikut Jejak Kariernya
|Baca juga: Bank BUMD Dinilai Alami Tumpang Tindih Aturan OJK dan Pemerintah
“Temuan ini menegaskan Ramadan membuka peluang bagi brand untuk membangun nilai dan loyalitas jangka panjang melalui strategi penjualan online yang tepat,” jelas Danang, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin, 26 Januari 2026.
Periode strategis perilaku belanja konsumen online di Ramadan 2025
Sepanjang Ramadan 2025, SIRCLO mengamati sejumlah pergeseran penting dalam perilaku belanja daring, mulai dari kategori produk yang paling diminati, momentum transaksi yang paling ramai, hingga segmen dengan pertumbuhan tercepat.
Rangkaian tren berikut membentuk pola konsumsi yang dapat menjadi acuan strategis bagi brand dalam merancang pendekatan penjualan yang lebih relevan selama musim belanja ini yakni:
1. Kategori utama yang mendominasi belanja Ramadan
Data internal SIRCLO pada Ramadan 2025 menunjukkan lima kategori dengan jumlah transaksi tertinggi meliputi Beauty & Personal Care, Fast Moving Consumer Goods (FMCG), Mom & Baby, Healthcare, serta Fashion. Pola ini mencerminkan fokus konsumen yang semakin mengandalkan kanal belanja daring untuk kebutuhan fungsional, konsumsi berulang, dan relevansi tradisi Hari Raya.
Tidak hanya dari volume transaksi, nilai keranjang belanja juga terus bertumbuh. Kategori FMCG mencatat kenaikan rata-rata nilai belanja konsumen 27,5 persen, diikuti Travelling sebesar 14 persen, dan Fashion sebesar 13,5 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa konsumen mengalokasikan anggaran yang lebih besar dalam satu kali transaksi untuk memenuhi kebutuhan pokok dan persiapan perjalanan mudik.
2. Kategori dengan pertumbuhan tertinggi dibandingkan dengan periode sebelum fase belanja Ramadan
Pada Ramadan 2025, akselerasi jumlah transaksi tertinggi tercatat pada kategori Fashion yang tumbuh hingga empat kali lipat, sejalan dengan tradisi membeli pakaian baru untuk Hari Raya. Kategori Travelling menyusul dengan kenaikan hampir tiga kali lipat, seiring adanya mudik dan liburan keluarga. Di sisi lain, kategori Electronics, Mom & Baby, serta FMCG menunjukkan pertumbuhan yang stabil di kisaran dua kali lipat.
3. Pola waktu belanja konsumen
Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, salah satu pola yang konsisten terlihat adalah jam makan siang sebagai waktu utama berlangsungnya transaksi. Dalam periode satu bulan menjelang dua minggu sebelum Ramadan, pukul 12.00 siang telah menjadi jam belanja terpopuler, di mana pola ini berlanjut, bahkan melonjak hingga dua kali lipat, saat Ramadan.
|Baca juga: Sah! Panji Irawan Resmi Jabat Dirut Bank Mandiri Taspen
|Baca juga: Park Young Mock Resmi Jabat Presiden Komisaris Lippo Insurance (LPGI)
|Baca juga: Hanwha Life Insurance Indonesia Alihkan 46,6% Saham ke Hanwha Insurance, Ada Apa?
Pola ini diperkuat oleh data Telkomsel Enterprise yang memperlihatkan bahwa puncak aktivitas digital dan belanja daring terjadi pada beberapa rentang waktu utama, yakni menjelang sahur (pukul 03.00 – 05.00), waktu istirahat siang (pukul 11.00 – 14.00), serta sore hingga malam hari menjelang dan setelah berbuka puasa (pukul 16.00 – 19.00).
Sejumlah temuan ini mengindikasikan perilaku belanja konsumen semakin terikat pada ritme aktivitas harian selama Ramadan.
4 strategi berjualan online guna maksimalkan momentum Ramadan 2026
Seiring dengan pola belanja online yang terus menunjukkan peningkatan selama Ramadan, brand dihadapkan pada kebutuhan untuk menghadirkan strategi yang relevan dan tepat sasaran dalam mendorong penjualan. Berangkat dari dinamika tersebut, berikut sejumlah strategi yang dapat diterapkan oleh brand:
1. Mulai kampanye lebih awal
Menurut InMobi, aktivitas belanja Ramadan kini tidak lagi terkonsentrasi hanya pada minggu-minggu menjelang Idulfitri. Sebaliknya, konsumen mulai merencanakan dan melakukan pembelian sekitar 2-4 minggu sebelum Ramadan dimulai. Dalam konteks ini, brand dapat memulai kampanye setidaknya dua minggu sebelum Ramadan.
Pada fase awal, fokus dapat diarahkan pada pengenalan dan awareness terhadap produk, lalu secara perlahan meningkat ke penawaran yang lebih agresif ketika konsumen mulai merealisasikan rencana belanjanya dan periode pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Kehadiran brand sejak periode sebelum Ramadan membuka ruang untuk membangun awareness dan pertimbangan lebih awal, sehingga brand tidak hanya bersaing saat puncak permintaan berlangsung.
2. Melampaui diskon dalam merancang promosi yang relevan
Berkaca pada perilaku konsumen yang semakin selektif dalam mencari penawaran yang sesuai dengan konteks kebutuhan mereka, promosi selama Ramadan tidak lagi cukup mengandalkan potongan harga atau voucher.
Karena itu, pendekatan tematik menjadi kunci, seperti melalui kolaborasi eksklusif dan peluncuran koleksi Ramadan yang kemudian dikemas dalam bentuk Bundling, Buy More Save More, dan Gift With Purchase.
Berdasarkan analisis data internal SIRCLO, efektivitas promosi pun sangat dipengaruhi oleh penyesuaian waktu. Misalnya, produk kebutuhan harian dan praktis cenderung lebih efektif ditawarkan pada waktu sahur dan pagi hari (pukul 03.00 – 04.00).
Menjelang berbuka puasa atau ngabuburit (pukul 16.00 – 18.00), konsumen terbilang lebih impulsif, sehingga flash sale dan live interaktif menjadi lebih relevan. Sementara itu, menjelang dua minggu sebelum Idulfitri, perhatian beralih ke penawaran yang disertai hadiah, paket keluarga (family pack), serta varian premium yang mendukung kebutuhan perayaan.
3. Optimalisasi live streaming
Selama Ramadan, konsumen kerap berbelanja dengan tujuan yang lebih jelas. Mereka tidak hanya mencari produk, tetapi solusi untuk kebutuhan spesifik, seperti persiapan sahur, buka puasa, hingga Idulfitri.
Hal ini menuntut brand untuk menghadirkan tema live streaming yang sesuai dengan konteks tersebut, seperti “Ramadan Essentials”, “Budget-Friendly Sahur” atau “Last Minute Lebaran Preparation” guna menghadirkan narasi yang dekat dengan kebutuhan audiens.
Di tengah persaingan yang semakin intens, live streaming juga berfungsi sebagai sarana membangun kedekatan dengan konsumen. Penjadwalan yang mengikuti ritme harian Ramadan, pemilihan host berpengalaman yang mampu merepresentasikan brand dengan baik, hingga tampilan visual yang menarik mampu menumbuhkan rasa percaya dan kedekatan guna mendorong minat beli.
4. Mendorong penjualan melalui peran content creator
Kuatnya kinerja marketplace berbasis konten selama periode puncak menegaskan bahwa banyak konsumen menemukan produk melalui interaksi dan rekomendasi. Kolaborasi dengan content creator yang tepat memungkinkan brand menjangkau audiens yang lebih luas sekaligus membangun kepercayaan di tengah masifnya pesan promosi.
Ketika konsumen merasa bahwa sebuah produk direkomendasikan oleh figur yang mereka percaya atau terasa dekat, peluang terjadinya pembelian pun meningkat secara signifikan.
Danang menjelaskan Ramadan bukan hanya tentang lonjakan penjualan, tetapi bagaimana brand mampu memahami dan menjawab kebutuhan konsumen secara tepat. Di tengah tingginya permintaan dan kompleksitas eksekusi lintas kanal, kesiapan operasional yang menyeluruh menjadi kunci untuk menjaga konsistensi pengalaman belanja.
“Melalui kapabilitas teknologi, operasional, dan pemahaman terhadap konsumen, SIRCLO mendukung brand mengeksekusi strategi ini secara terpadu,” tutup Danang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
