1
1

Industri Pindar Disebut Solusi Strategis Pembiayaan UMKM, Begini Penjelasannya!

Ilustrasi. | Foto: macrovector/Freepik

Media Asuransi, JAKARTA – Di tengah besarnya potensi pembiayaan usaha kecil di Indonesia, industri pinjaman daring (pindar) kian menunjukkan perannya sebagai penggerak utama ekonomi digital.

Hal ini diungkapkan dalam riset Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) bersama Katadata Insight bertajuk ‘Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia‘.

Riset tersebut menegaskan pindar bukan lagi sekadar opsi alternatif, melainkan menjadi solusi strategis dalam mendukung pembiayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), terutama bagi pelaku usaha yang belum sepenuhnya terjangkau perbankan.

Berdasarkan data di dalam riset, hingga Agustus 2025 total outstanding pindar tercatat sebesar Rp87,48 triliun dengan 25,5 juta penerima pinjaman aktif. Sementara per November 2025, total outstanding pindar tembus sebesar Rp94,85 triliun atau tumbuh secara signifikan yakni 25,45 persen secara tahunan (yoy).

Senior Analyst Katadata Insight Center Hanif Gusman menjelaskan dengan tingginya data total outstanding, masih ada persepsi negatif terhadap pindar. Salah satunya adalah stigma industri pindar mengajarkan masyarakat untuk berutang. Namun nyatanya pindar menjadi pain point UMKM terhadap pendanaan perbankan.

|Baca juga: 3 Ramalan Bos OJK dan Jurus Antisipasinya saat Konflik Timur Tengah Memanas

|Baca juga: Tegas! OJK Beri Sanksi Finfluencer Sesat dan Debt Collector yang ‘Nakal’

|Baca juga: 7 Asuransi dan Reasuransi Masuk Pengawasan Khusus, OJK Soroti RBC dan Permodalan sebagai Biang Kerok

“Sementara bidang sendiri sebagai platform digital itu memiliki beberapa kelebihan dibandingkan perbankan. Pertama itu pencahayaan dana yang cepat, proses cepat dan mudah, hingga aplikasi yang terdekat,” ujar Hanif, di Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.

Dari sisi kinerja usaha, riset tersebut mencatatkan rata-rata omzet bulanan UMKM meningkat 121 persen setelah memperoleh pembiayaan produktif dari pindar. Sementara, laba bersih tercatat melonjak hingga 155 persen.

Selain itu, analisis input output BPS merinci setiap Rp1 pembiayaan produktif yang disalurkan berpotensi memberikan dampak hingga Rp6 terhadap perekonomian nasional. Temuan ini menunjukkan efek pengganda atau multiplier effect yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi.

”Berdasarkan angka tersebut maka setiap Rp1 pinjaman itu berkontribusi sebesar Rp6 kepada ekonomi nasional. Namun perlu digarisbawahi, perhitungan ini perhitungan satu kali, jadi bukan efek setahun tadi pinjaman yang mereka lakukan. Jadi pinjaman ini hanya dihitung satu kali ketika mereka lakukan pinjaman,” tutup Hanif.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post AFPI Ungkap Biang Kerok TWP90 Fintech Lending Meningkat Jadi 4,38% per Januari 2026
Next Post AFPI Analisis Mendalam Dampak Konflik AS-Israel dan Iran yang Kian Memanas

Member Login

or